Selepas membaca doa jihad dan Al Fatihah, Abuya ajarkan untuk berdoa:
“Wahai Tuhan yang sedang menghitung sembahyang kami ini, apakah akan diterima atau ditolak, tolong jadikanlah ketakutan kami ini menjadi syafaat untuk Engkau terima sembahyang kami ini…”
Walaupun doa dilafadzkan dalam bahasa Indonesia, tetapi saya bertanya-tanya apa maksud doa ini. Perasaan takut itu seperti apa? Mengapa meminta kepada Allah untuk diterimanya sembahyang dengan bertawasul dengan perasaan takut di hati, padahal tiada perasaan takut itu hadir di dalam jiwa.
Akhirnya semalam Abuya jawab pertanyaan itu dengan sebuah tamsilan/perumpamaan.
Shalat yang tidak khusyuk akan membawa ke neraka wail. Setiap amalan akan dibawa oleh malaikat hafadzah ke hadhirat Tuhan, bila amalan itu tiada ikhlas, tiada penghayatan, tiada khusyuk, maka amalan itu akan dilemparkan kembali ke muka.
Coba bayangkan, kita sibuk buat kue untuk kita hadiahkan kepada bos kita di kantor. Begitu kita persembahkan, rasa kue itu bukannya manis tetapi asin karena malah justru memasukkan garam ke dalam adonan. Bos pun melemparkan kue tersebut ke muka. Coba bayangkan perasaan seperti apa yg ada dalam jiwa.
Padahal, dengan memberi hadiah kue kepada bos itu, kita berharap bos makin sayang dengan kita. Tapi rupanya yg terjadi justru sebaliknya, bos sebal dengan kita.
Melalui sembahyang kita berharap, Tuhan memberikan rahmat dan perlindungan dan pengampunanNya. Tetapi bila yang terjadi Tuhan malah melemparkan amalan sembahyang itu ke muka seperti kain buruk dilempar ke muka, tentulah ketakutan yang amat sangat akan mendera dalam batin. Ini bumi Tuhan, kalau Tuhan tidak redho, bila Tuhan tidak memberikan rahmatNya, lantas kita mau hidup dibumi mana lagi? Semua alam ini adalah alam milik Allah, adakah tempat yang selain milik Allah untuk kita minta suaka?
Kalau bos di kantor yg tidak suka dengan hadiah dari kita, kemudian bos menjadi sebal, masih banyak kantor lain. Lha kalau Allah, Bos dari seluruh Bos, yang tidak suka dengan kita?
Semoga itulah ketakutan yang Abuya harapkan ada dalam hati dan perasaan setiap selesai sembahyang. Sembahyang dibuat dengan tidak beradab, jauh dari khusyuk.
Maka, doa selepas adzan perlu dibuat dengan sungguh2 mengharap agar Baginda Rasulullah saw sudi menjadi wasilah agar sembahyang kita menjadi sembahyang yang agung.