Archive

Monthly Archives: July 2007

Satu ketika di zaman dahulu kala, ada seorang yang bernama Lukman Al Hakim menasehati anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang paling besar”. Begitulah kisah seorang bapak yang sedang menasehati anaknya itu terekam dalam Al Quran.  

KAlau sampai terekam dalam Al Quran, berarti kisah itu amat sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus dari umat manusia hingga ke akhir zaman. Seluruh nabi dan rasul yang Allah utus ke dunia ini, semuanya membawa seruan yang sama. JAdikan Allah sebagai Tuhan, jangan sekutukan Dia. Jangan syirik alias menyekutukan Allah.

Apa pentingnya hal itu sehingga seluruh nabi dan rasul membawa pesan itu kepada manusia. Mengapa hal itu menjadi satu hal yang penting? Mengapa pula dikatakan bahwa menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar? Apa salahnya kalau Allah itu disekutukan? 

Katalah ada seorang yang sangat baik kepada si X. Banyak jasanya kepada si X. Kemudian dia memberikan kepercayaan kepada si X untuk mengurus perusahaannya. Tapi si X kemudian menghianatinya. Si X ambil alih semua aset perusahaan yang di titipkan kepada dia. Tidak cukup itu saja, si X fitnah dia. Dan si X juga berkata, semua ini adalah hasil jerih payah saya, dia tidak ada saham dan andil apa-apa dalam  kesuksesan saya ini. 

Apa kata dunia kepada si X ini? Tentu dunia dan Anda akan berkata: si X orang yang sangat kejam! Tak tau diuntung! Dzalim! 

Begitulah gambaran mengapa orang yang menyekutukan Tuhan adalah orang yang paling dzalim. Allah sudah menciptakannya, memberi kehidupan, memberi rizqi, menyembuhkan bila sakit. Tetapi, dia tidak mau mengakui itu semua dari Allah SWT. Ia pikir dia jadi dengan sendirinya. Dia pikir dia mendapat rizqi dari usahanya. 

Kenapa dia tidak pikir bahwa dia dapat berusaha karena udara yang masih Allah bagi kepada dia. Allah masih sehatkan dan beri kekuatan kepada dia untuk bekerja dan berusaha. PAntaslah mengapa orang yang menyekutukan Allah adalah orang yang paling dzalim. 

Ada satu cerita dari Abuya yang saya ingin ceritakan ulang kepada saudara-saudara pembaca sekalian mengenai bagaimana kita dengan Tuhan. Cerita ini memberikan gambaran mengenai bagaimana sikap manusia di akhir zaman kepada Tuhannya.

Ada seorang anak sekolahan (pelajar). Tiap hari ibunya memasak buat dia. Terkadang ibunya menyiapkan bekal makanan untuk dia. Tak lupa ibunya memberi uang jajan (duit poket).  Di sekolah dia punya teman yang dua minggu atau sebulan sekali mentraktir dia makan. Kadang-kadang dia diajak piknik berekreasi bersama. 

Dengan kawan di sekolahnya itu anak itu sangat menjaga hati kawannya karena sudah sangat baik mentraktir dan kadang-kadang mengajak jalan. KAlau kawannya minta bantuan dia selalu siap menolong. Tetapi anehnya, dengan ibunya yang tidak pernah lupa menyediakan makanan untuk dia, dia merasa malas untuk membantu pekerjaan-pekerjaan ibunya. Bahkan terkadang kalau disuruh ke warung sebelah untuk membeli bumbu dapur dia menolak. “malas ah, acara TV baru seru” begitu alasannya. 

Kisah diatas merefleksikan bagaimana kita dengan Tuhan yang tiap detik tidak pernah lekang memelihara kita. Tuhan yang begitu baik kepada manusia. 

Apa yang aku ingat? Apa yang aku pikirkan? Apa yang aku rasakan? Apa yang aku khawatirkan? Apa yang aku resahkan? Apa yang aku takutkan? 

Sungguh, segala apa yang kuingat, kupikirkan, kurasakan, kukhawatirkan, kuresahkan,  dan kutakutkan akan Allah tanya dan semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. 

Fudz,

Ingatlah dosa, kesalahan, orang-orang yang telah kau dzalimi, taubat-taubat palsumu, taubat-taubat yang belum tentu diterima, amal yang tidak sempurna, shalat yang lalai. Ingatlah pula kebaikan Tuhanmu, nikmat dari Tuhanmu, kebaikan dan jasa baik orang-orang yang telah berjasa kepadamu.  Itu hal-hal yang sepatutnya kau ingat. 

Fudz,

Pikirkanlah kebaikan apa lagi yang hendak kamu buat, khidmat apa lagi yang hendak kamu lakukan. Pikirkanlah bagaimana menolong mereka yang menderita. Pikirkanlah perjuangan akhir zaman, adakah kau selamat bersama Imamul Mahdi Al Muntazar ataukah kau tersesat jalan bersama Dajjal laknatullah. Itu hal-hal yang sepatutnya kau pikirkan. 

Fudz,

Rasakanlah kebesaran Allah, kebaikan Allah, Pengasih dan Penyayangnya Allah. Rasakanlah kebaikan dan jasa RAsulullah saw, yang karena-nya lah kau mengenal Tuhan, Islam, dan boleh berjuang di akhir zaman bersama Al Fata At Tamimi. Rasakanlah penderitaan orang yang bersusah payah sehingga sebutir nasi dan jutaan nikmat yang bisa kau nikmati. RAsakanlah kebaikan dan jasa guru-gurumu sehingga kau mendapatkan ilmu untuk menyuluh kehidupan.  Itulah rasa-rasa yang sepatutnya kau rasakan dalam hatimu. 

Fudz,

Khawatirkan dan resah-lah dengan dosa-dosa dan kesalahan yang kau buat. Taubat belum tentu diterima. Khawatirkan dan resahkan nasibmu di akhirat sana, adakah kau selamat atau celaka. Resahkan keadaanmu di penghujung hidupmu, adakah kau husnul khatimah atau suul khatimah. Itu hal-hal yang sepatutnya kau resahkan. 

Fudz,

Takutlah kau dengan Tuhanmu. Dia senantiasa ada dan melihat apa yang kau perbuat. TAkutlah, kau berbuat maksiat dan kesalahan di hadapan Tuhan yang Maha Berkuasa. TAkutlah bila Tuhan berpaling darimu, takutlah bila Tuhan tidak redha kepadamu. 

Itu semua, yang sepatutnya kau ingat, kau pikirkan, kau khawatirkan, kau resahkan dan kau takutkan. 

Rasulullah SAW bersabda :“Telah berlaku zaman kenabian keatas kamu, maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkat zaman itu. Kemudian berlakulah zaman khalifah yang berjalan sepertimana zaman kenabian. Maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya. Kemudian berlakulah zaman pemerintahan yang menggigit. Berlaku zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya juga, kemudian berlakulah zaman pemerintahan diktator (zaman penindasan dan penzaliman), dan berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian berlaku pula zaman khalifah yang berjalan diatas cara hidup zaman Kenabian [H.R. Imam Ahmad, Bazzar dan Attabrani dari Abu Huzaifah Al-Yamani] 

Yang ingin membaca ulasan Abuya mengenai hadis di atas sila klik ke: http://www.rufaqa-indonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=1

Saya hanya ingin mengarisbawahi saja bahwa kita sekarang sedang berada di penghujung zaman penindasan/penzaliman. Kita sekarang sedang berada pada zaman transisi dari zaman penindasan ke zaman kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi.

Bagaimana proses kedatangan Imam Mahdi? Apakah dia tiba-tiba saja datang? Tidak saudara, bukan begitu prosesnya. Tetapi Allah datangkan dulu orang yang mempersiapkan sistem Imam Mahdi. Orang itu digelari dengan gelaran Al Fata At TAmimi (Putra Bani Tamim).

Telah mengeluarkan Tabrani dalam Al Ausat, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW telah mengambil tangan Ali dan bersabda : “Akan keluar dari sulbi ini pemuda yag memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Pemuda dari Bani Tamim, dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi”.

Sekarang ini, orang kanan Imam Mahdi, yaitu Putra Bani Tamim (Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi) sedang memperjuangkan agar transisi ini cepat berlalu. Sehingga kita semua dapat mengecapi zaman Imamul Mahdi. Sila lihat: www.rufaqa.com / www.rufaqa-indonesia.com

Syeikh Mohd Abu Bakar, BOD Rufaqa Int’l dan juga menantu Abuya, telah sampai kepada ujung perjuangan yakni kematian. Al Fatihah.

Kita pun pasti menyusul. Karena kematian itu pasti. Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi, mujaddid kurun ini, Al Fata At Tamimi, wakil Rasulullah saw di akhir zaman telah pun memberikan satu panduan dalam menanti kematian.

Berikut adalah luahan hati Abuya dalam menanti kematian:

Aku penuh debar dan sungguh cemas menunggu hari kematian. Karena dia datang tanpa kuketahui. Aku takut di waktu ketibaan kematian, aku tidak tahu, di dalam taat atau di dalam kedurhakaan. Di dalam aku mengingati-Nya atau di dalam kelalaian. Di waktu taat, husnul khatimah. Jika di waktu durhaka, su’ul khatimah.

Aduh, cemas aku setiap waktu bila mengingati mati. Karena aku tidak tahu nasibku, husnul khatimah atau su’ul khatimah. Hatiku resah selalu, jiwaku terganggu tapi orang tidak tahu.

Aduh, mati adalah penutup segala-galanya. Apa yang dikerjakan dan yang dirasakan oleh hati, itulah yang dibawa ke Akhirat. Di sana segala-galanya dinilai. Jika tersilap, di sana tidak boleh hendak dibetulkan lagi.

Tuhan!

Hatiku sungguh cemas. Aku harap matikanlah aku di waktu aku mentaati-Mu atau di waktu mengingati-Mu. Kalau berlaku sebaliknya, karena kelemahanku. Karena aku ini hamba-Mu, yang tidak dapat mengelak dari kelemahan ini, maka dengan rahmat-Mu Tuhan, ampunkanlah dosa-dosaku di waktu ini. Bila dosaku Engkau ampunkan, aku macam tidak membuat dosa maka ringanlah bebanku di waktu ke sana.

Itulah harapanku pada-Mu Tuhan, di waktu detik kematianku. Engkau sajalah yang boleh menyelamatkanku.

pic_0131.jpg

Makhfud,

Untuk mendapat kesenangan mudah tetapi untuk mendapat ketenangan amat payah. Mendapatkan harta atau kekayaan mudah saja, tetapi untuk mendapatkan kebahagiaan sangat susah. Untuk kemudahan hidup tidaklah terlalu payah, tetapi untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan,

jauh sekali dari apa yang diharapkan.

Makhfud,

Kesenangan adalah perkara luaran, tidak mesti orang yang senang itu tenang dalam hidupnya. Kemudahan hidup juga perkara lahiriah, orang yang mempunyai banyak fasilitas tidak mesti bahagia.

Makhfud,

Tenang dan bahagia adalah perkara dalaman. Tenang dan bahagia adalah sifat hati atau jiwa. Tenang dan bahagia tidak mungkin didapat dari harta, pangkat, nama dan glamour. Kamu lihat sendiri kan, bahkan orang yang berharta, berpangkat, ada nama dan glamour, selalu saja sakit jiwa. Hidup gelisah, resah dan keluh-kesah, efek sampingnya dia selalu marah-marah.

Makhfud,

Tenang dan bahagia itu adalah cinta kepada Zat yang Maha Agung, Tuhan pencipta manusia, yang mempunyai segala-galanya. Siapa yang dapat mencintai-Nya tidak ada kecewanya. Mencintai-Nya tidak menjemukan. Mencintai dunia dan nikmatnya sudah tidak ada artinya karena Tuhan itu adalah segala-galanya. Mendapatkan Tuhan artinya mendapatkan segala-galanya.

Sayidi Syeikh Muhammad Bin Abdullah As SuhaimiAbuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi

Ini dia 2 tokoh kebangkitan Islam di akhir zaman.

Klik: http://dijanjikan.blogspot.com/

Link yang cukup memberi hujah bahwa Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi adalah Fata At Tamimi (Putra Bani Tamim).

Telah mengeluarkan Tabrani dalam Al Ausat, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW telah mengambil tangan Ali dan bersabda : “Akan keluar dari sulbi ini pemuda yag memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Pemuda dari Bani Tamim, dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi”.

Coba lihat bagaimana Syeikh Abdul Nasser Al Husaini Al Sadzily yang memiliki pengikut 30 ribu dari seluruh dunia mendakwa mimpi berjumpa Rasulullah Saw dan diarahkan untuk menemui Abuya. Begitu jumpa beliau langsung baiah dengan Abuya. Kalau dipikir logiknya, sangat tidak logik kejadian ini. Coba apa untungnya Syeikh Abdul Nasser yang beliau adalah Syeikh berbangsa Arab berbaiah kepada orang ajam. Pengikutnya jauh lebih banyak dari Abuya. Patutnya Abuya yang baiah kepada beliau. Tapi ini sebaliknya.

Juga lihat bagaimana Syeikh Abu Khalid As Syamar yang memiliki pengikut 30 juta orang mendakwa mimpi jumpa Rasulullah saw dan RAsulullah saw mengarahkannya untuk berbaiah pada Abuya. Ini juga sangat tidak logik.

Anda mau jadi pemimpin?

Weit…sebentar bung! Jangan pikir enak kalau jadi pemimpin. Jadi pemimpin gaji gede, dihormati anak buah. Itu pemimpin gila namanya, gila harta dan gila kuasa. Berhati-hatilah kita terhadap orang yang semacam ini. Di akhir zaman terlalu banyak orang macam ini.

Menjadi pemimpin sejati mengikut Al Quran dan As Sunah sangat-lah berat. Makanya, walapun sejatinya para Nabi dan Rasul itu adalah pemimpin tetapi yang Allah bagi kuasa pemerintahan hanya 3 RAsul saja, Rasulullah saw, NAbi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. Yang lainnya tidak Allah bagi kuasa, karena pertanggungjawabannya sangat berat.

Nah lo, di akhir zaman ini karena sudah sangat jauh dari panduan Tuhan, banyak orang mendamba menjadi pemimpin Negara. Berbagai cara dilakukan supaya dapat terpilih jadi penguasa Negara.

Well…Kalau Anda mau jadi pemimpin maka sanggupkah Anda menjadi Ayah yang bertanggungjawab kepada anak-anaknya (rakyatnya)?

Sanggupkah Anda menjadi ibu tempat bermanja?

Sanggupkah menjadi guru kepada mereka (rakyat) yang meberi didikan dan ilmu?

Sanggupkah menjadi kawan setia yang kapan saja dapat memberi pertolongan dan bantuan?

Susah bung!

Makanya dulu Imam Syafii menolak jabatan perdana menteri dan memilih jadi penasehat saja. Kurang apa sih Imam Syafii, ilmu dan ketaqwaannya sangat luar biasa.

Yach..memang inilah watak akhir zaman, zaman edan, orang sudah pada gila dan tidak dapat lagi berpikir waras. Amanah kepimpinan yang begitu berat malah jadi rebutan.

Duh Gusti..nasib….nasib….

Datangkanlah segera pemimpin penyelamat yang Engkau janjikan di akhir zaman

Allah SWT menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya termasuk manusia. Allah juga mewujudkan peraturan demi keselamatan dan kesejahteraan mereka, bukan saja di dunia, bahkan juga di Akhirat, tempat tinggal terakhir buat manusia. Peraturan atau syariat Allah yang berlaku di bumi tempat tinggal sementara manusia ini, itulah yang dikatakan sunnatullah. Ia merupakan peraturan yang Allah Taala telah tetapkan untuk manusia. Manusia perlu mengikuti dan mematuhinya. Jika manusia tidak mematuhi dan menolak sunnatullah itu, pasti manusia akan rusak dan binasa. Rusak dan binasa itu pasti terjadi saat di dunia baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang. 

Apabila kita memperkatakan sunnatullah, yaitu satu sistem dan peraturan yang ditentukan oleh Allah Taala buat manusia di dunia ini, ia tidak akan berubah dan siapa pun tidak dapat mengubahnya sejak Allah Taala wujudkan hingga sampai kapan pun.

Firman Allah SWT: Maksudnya: “Karena engkau tidak sekali-kali akan mendapati sebarang perubahan bagi Sunnatullah, engkau tidak sekali-kali akan mendapati sebarang penukaran bagi perjalanan sunnatullah itu.” (Fathir: 43) 

Perlu diingat bahwa sunnatullah itu terbagi kepada dua bagian: 

Pertama:Manusia menerimanya secara terpaksa

Kedua: Manusia menerima secara sukarela 

Firman Allah:Maksudnya: “Dan kepada Allah jualah sekalian makhluk yang ada di langit dan bumi tunduk menurut, baik dengan sukarela atau dengan terpaksa.” (Ar Ra’d: 15) 

1. Secara terpaksa (karhan). Sunnatullah yang pertama, manusia terpaksa menerimanya secara terpaksa (karhan). Di antaranya seperti:

– Jika manusia ingin bernafas, Allah sudah tentukan dengan udara bukan dengan air dan lain-lain.

– Bernafas melalui hidung bukan melalui mata dan lainnya.

– Makan dan minum melalui mulut bukan melalui dubur dan jalan-jalan lain.

– Berjalan menggunakan kaki bukan melalui tangan dan lain-lain. 

2. Secara sukarela (tau’an). Sunnatullah yang kedua ialah Allah Taala membuat peraturan sebagai sunnatullah seperti:

– Makan dan minumlah yang halal seperti nasi dan air mineral, jangan makan dan minum yang haram seperti daging babi dan arak.

– Ingin perempuan hendaknya menikah. Jangan berzina.

– Ingin kaya, berusahalah secara halal seperti berniaga, bertani dan berternak. Jangan mencuri, jangan menipu.

– Jika inginkan keselamatan negara dan masyarakat, perlu menggunakan hukum Allah Taala yang berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

– Kalau mau kehidupan di bidang ekonomi berjalan sehat, tidak ada penipuan dan penindasan, tolaklah sistem riba, monopoli dan memperdagangkan yang haram.

 Jika mau kehidupan manusia seimbang agar terjamin kebahagiaan dan keharmonian, bangunkanlah kehidupan yang bersifat material dan juga pembangunan rohaniah. 

Kedua-dua sunnatullah itu sama ada yang bersifat terpaksa (karhan) maupun bersifat sukarela atau pilihan (tau’an) atau ada usaha memilih untuk melaksanakannya, kalau dilanggar atau tidak dipatuhi, pasti manusia akan binasa di dunia ini sebelum binasa di Akhirat kelak. Sebab-sebab manusia menolak itu mungkin karena manusia itu mau buat peraturan sendiri sebab tidak puas hati dengan peraturan Tuhan. Maka mereka pun membuat sunnah sendiri. 

Sunnatullah yang pertama, tidak ada manusia yang menentang atau menolaknya. Semua orang boleh menerimanya karena dari pengalaman manusia, mereka boleh menerima dengan penuh suka dan puas hati. Tidak ada yang terasa berat meneri manya. Bahkan tidak ada yang merasa inferiority complex menerimanya. Semua menerimanya dengan berpuas hati dan senang hati. Tidak ada yang merasakan kolot, ketinggalan zaman, out of date. 

Tidak ada yang mengatakan, “Ia sudah ketinggalan zaman, semenjak Nabi Allah Adam, manusia bernafas dengan udara. Sudah terlalu lama, sudah kolot. Ini kan zaman sains dan teknologi, zaman IT canggih, tidak sepatutnya kita bernafas dengan udara lagi. Sepatutnya kita bernafas dengan air.” Namun, tiada manusia yang mengatakan seperti itu.  

Mengapa manusia boleh menerima bahkan berpuas hati dengan sunnatullah yang pertama iaitu yang bersifat karhan? Mengapa tidak ada mempertikaikannya? Mengapa tidak merasa kolot menggunakan peraturan yang sudah terlalu lama itu? Manusia boleh menerimanya karena kalau melanggar sunnatullah itu risikonya besar dan cepat sekali rusak binasa hingga dapat membawa kematian. Bahkan sudah banyak yang mati disebabkan air. Cobalah bernafas dengan air! Dapatkah hidup? Dapatkah bernafas? Sudah tentu tidak dapat. Kalau diteruskan juga, saat itu juga binasa. Jadi, karena kalau melanggar sunnatullah yang pertama, yang bersifat terpaksa itu (karhan), manusia akan cepat menerima risikonya, maka tidak ada manusia yang melanggar sunnatullah yang pertama itu. Justru manusia dapat mematuhinya dengan puas hati. 

Di sini manusia merasa selamat menerima sunnatullah yang bersifat karhan. Manusia berpuas hati menerima peraturan itu. Manusia mengakui siapa yang melanggar sunnatullah itu, mereka pasti rusak binasa. Artinya mematuhi peraturan yang bersifat karhan itu, ia sangat menyelamatkan dan menguntungkan manusia. 

Bagaimanapun, manusia susah untuk menerima sunnatullah yang kedua iaitu yang bersifat sukarela (tau’an). Termasuk sebagian besar umat Islam di dunia di akhir zaman ini. Allah Taala membenarkan manusia untuk memilih menerima atau menolak sunnatullah yang bersifat tau’an ini tetapi risikonya tetap ada bahkan lebih besar lagi. Baik yang akan berlaku di dunia, betapalah yang akan ditimpakan di Akhirat kelak. 

Umat Islam sendiri merasa malu untuk menerimanya, ragu melaksanakannya, takut tidak maju, takut huru-hara, malu dengan yang bukan Islam. Ia dianggap ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai lagi. “Sekarang zaman sains dan teknologi, zaman IT canggih, bukan zaman unta.” Begitulah umat Islam sendiri dengan penuh angkuh dan sombong menolaknya. Bahkan benci dan prejudis terhadap pejuang-pejuang yang hendak menegakkan sunnatullah kedua yang bersifat tau’an ini. 

Banyak manusia yang menolak, termasuklah sebagian besar umat Islam, karena apabila menolak sunnatullah yang kedua ini risikonya lambat. Kebinasaan dan kerusakan tidak langsung berlaku di waktu itu juga. Ianya lambat berlaku. Adakalanya setelah sepuluh tahun, lima belas tahun atau dua puluh tahun baru dirasakan akibatnya. Sehingga apabila risiko dan kerusakan menimpa, di waktu itu mereka sudah tidak dapat mengkaitkan lagi ia dengan perlanggaran dan penolakan sunnatullah yang dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu. 

Karena itulah, kalau ada orang atau golongan yang sadar, memberitahu kerusakan moral, tindak pidana, perpecahan dan lain-lain lagi yang berlaku sekarang ini disebabkan kita sejak dahulu telah melanggar sunnatullah, mereka akan menolaknya. Bahkan marah dan bermusuhan dengan orang itu. Mereka tidak dapat mengaitkan gejala sosial yang berlaku, yang telah merusakkan masyarakat hari ini dengan kesalahan mereka menolak hukum atau sunnatullah itu. 

Sebagai contoh, keruntuhan akhlak dan gejala tidak sihat yang berlaku di dalam masyarakat sekarang seperti permasalahan remaja, budaya kongkow-kongkow, vandalisme, rompak, samun, suap, krisis rumah tangga dan sebagainya itu adalah akibat dari apa yang kita telah lakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Ia berlaku apabila sistem pendidikan tidak mengikut syariat Allah, system ekonomi berdasarkan kapitalisme, perlembagaan negara bertentangan dengan sunnatullah yaitu tidak mengikut Al Quran dan Hadis, masyarakat kita tidak dihalang dari pergaulan bebas dan media massa tidak dikawal dari memaparkan apa yang dilarang oleh Allah seperti memamerkan gambar-gambar porno yang merangsang nafsu. Jadi, gejala sosial yang berlaku adalah buah dari benih yang sudah lama kita tanam. Oleh karena itu, jelaslah kepada kita bahwa sunnatullah yang kedua ini yang bersifat tau’an, jangan dilanggar. Kalau dilanggar tetap memudarat dan merusakkan masyarakat manusia tetapi memakan waktu yang panjang baru nampak risikonya. Setelah lama barulah terlihat kesannya. Baik sunnatullah yang pertama maupun yang kedua, yang bersifat karhan mahupun yang bersifat tau’an, kalau dilanggar juga kita akan binasa. Hidup kita akan huru-hara. Masyarakat kita akan pincang. Kebahagiaan kita akan tergugat dan keharmonian kita akan hilang. Cuma pelanggaran yang pertama cepat kebinasaannya tetapi pelanggaran yang kedua lambat. Itu saja bedanya. 

Justeru itu kalau kita didapati di dalam masyarakat kita terjadi berbagai tindak pidana, kerusakan akhlak, krisis, dan bahkan bencana alam, cepatlah rujuk kepada Allah Taala. Jangan lengah lagi. Muhasabah diri dan sistem yang kita bangunkan. Ada atau tidak pelanggaran sunnatullah itu. Kalau didapati ada pelanggaran, perlu segera dibetulkan. Patuhi sunnatullah, kemudian memohon ampun sebanyak-banyaknya kepada-Nya sebelum Allah Taala menimpakan balasan dan hukuman yang lebih berat dan lebih dasyat lagi. 

Mengenal Tuhan artinya mengenal tujuan mati dan hidup karena Tuhanlah kita hidup dan mati. Mengenal Tuhan artinya mengenal tempat rujuk, mengenal tempat berlindung, mengenal tempat menyerah diri, mengenal tempat mengadu, mengenal tempat bermanja.  

Mengenal Tuhan artinya mengenal perbuatan Tuhan ke atas diri kita. Semua yang berlaku pada diri kita mengandung hikmah dan pengajaran yang berguna.

Apabila mengenal Tuhan, barulah kita rasa senang melaksanakan syariat-Nya. Dengan syariat-Nya kita akan selamat dan menyelamatkan karena syariat itu adalah disiplin kehidupan. Disiplin sangat diperlukan oleh setiap insan. Dengan disiplin, manusia hidup teratur. Setiap waktu ada program tertentu untuk faedah manusia. Waktu tidak terbuang, setiap ruang masa ada jadwal hidup yang berguna. 

Dengan syariat, manusia hormat-menghormati satu sama lain. Dapat bekerjasama baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Kemajuan pun terbangun, hidup berkasih sayang dan harmoni juga wujud.  Berlaku maaf-bermaafan, bertolak ansur, berlapang dada sesama manusia.  Syariat mendisiplinkan manusia agar hidup bersih, rajin dan cergas. Bersih dari pengkhianatan, penzaliman, jatuh-menjatuhkan, dan suap menyuap. Setiap orang ingin hidup bersih, maka terjauhlah segala maksiat dan tindak pidana.  

Apabila melaksanakan syariat bertunjangkan iman karena Tuhan telah dikenal, maka dari dari syariat itulah akan lahir akhlak yang mulia dan peribadi yang tinggi moralnya. Akhlak yang mulia itulah pendorong perpaduan, kedamaian, kasih sayang dan keharmonian. Maka berlakulah manusia di dunia ini seolah-olah satu keluarga. Ini telah pernah berlaku di dalam sejarah. Terutama di zaman Rasulullah SAW yang begitu indah. 

Kalau Engkau menghadap hidangan

Pikirkanlah berapa ramai orang yang membuat jasa

Nasi jasa petani ikan jasa nelayan

Sedangkan mereka miskin 

membajak sawah

Cuplikan sajak Abuya diatas, kalau benar-benar kita hayati, kita akan merasa malu dengan Tuhan. Makanan yang ada di hadapan kita terlalu banyak yang terlibat memberikan jasa sehingga ada di depan kita. Akal kita tak sanggup menghitungnya. Coba saja kalau tidak percaya.  Coba kita pikirkan hikayat satu bulir nasi.Siapa saja yang berjasa?

  1. Orang-orang yang bertungkus lumus meneliti benih padi.
  2. petani yang menanamnya
  3. buruh-buruh yang menjaga padi dan merawatnya
  4. pedagang pupuk dan obat anti hama
  5. buruh-buruh pabrik pupuk
  6. engineer-enginer yang mendesain pabrik pupuk
  7. Buruh-buruh yang memanggul-manggul pipa dan scaffolding dalam membangun pabrik pupuk
  8. para mandor yang mengawasi pabrik pupuk
  9. pupuk bahan dasarnya adalah gas, artinya orang-orang yang kerja di kilang minyak/gas juga turut berjasa
  10. buruh-buruh yang mengaspal jalan
  11. buruh-buruh pabrik truck
  12. sopir-sopir yang mengemudi truck
  13. Pak Polisi yang mengatur lalu lintas
  14. buruh-buruh yang mengangkat karung-karung beras
  15. para padagang yang mengedarkan beras
  16. Ibu yang memasakkan untuk kita
  17. Buruh pabrik rice cooker
  18. dan masih banyak lagi

 Tak sanggup akal kita untuk menghitung berapa banyak orang yang berjasa pada sebutir nasi yang akan kita makan. Sedihnya hati kita tak mampu berterimakasih kepada mereka semua. Kita memang tak pandai berterimakasih. Wahai Tuhan ampunkanlah kami yang tak pandai berterimakasih untuk nikmatMu yang berupa satu bulir nasi. Untuk nikmatMu yang sebulir nasi saja kami tak sanggup berterimakasih, lebih-lebih lagilah terhadap nikmatMu yang lain.Ampunkanlah atas kelemahan hambaMu ini. 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.