Archive

Monthly Archives: September 2007

Dalam membina bahtera rumah tangga ada paket yang perlu dilengkapkan yaitu:

Ilmu : Untuk menyuluh kehidupan

Mujahadah : Akan timbul masalah sehingga perlu mujahadah untuk menghadapinya

Sabar : Tak akan dapat mujahadah bila tidak ada sabar.

Bercita-cita menjadi ikhwan Rasulullah, menjadi golongan yang Rasulullah saw rindui yang akan muncul di akhir zaman. Golongan yang sangat mencintai Rasulullah saw meskipun tidak pernah bertemu dengannya.

 


Kalau umat Islam di akhir zaman ini bertaqwa, pasti Allah akan bela. Allah akan bantu. Allah akan curahkan keberkatan dari langit dan bumi. Itu semua janji Allah, Maha Suci Allah dari mungkir janji.

Namun, sungguh menyedihkan nasib umat Islam dan juga nasib negara berpenduduk Islam di hari ini. Terbelakang, miskin, huru-hara, bencana. Tidak nampak adanya pembelaan dan bantuan Tuhan. Apakah Tuhan mungkir janji ? Itu tidak mungkin ! Artinya, umat Islam di akhir zaman ini masih belum bertaqwa sehingga belum nampak bantuan Tuhan.

Satu faktor yang membuat Umat Islam di akhir zaman ini susah hendak bertaqwa ialah karena tawakal kepada yang bukan selain Allah. Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi membagi tawakal menjadi 4 (empat) kategori:

1. Tawakal kepada makhluk.

2. Tawakal kepada makhluk campur tawakal pada Tuhan

3. Tidak tawakal pada Tuhan & tidak tawakal pada makhluk

4. Tawakal kepada Tuhan, ini yang sebenarnya.

Kategori 1. Tawakal Kepada Makhluk.

Tawakal kepada makhluk ini memiliki banyak bagian. Diantaranya yang penting-penting:

a) Tawakal kepada diri.

Apa yang dimaksud dengan tawakal kepada diri? Satu perasaan hati yang tenang dengan perasaan-perasaan seperti: “selagi aku kuat, selagi aku sehat atau aku tak sakit, aku bisa hidup, aku tak susah hati, aku bisa makan bisa minum dan cari rezeki.” Artinya dia tawakal kepada diri. Artinya dia sudah MENUHANAN DIRI cuma dia tidak menyebut diri dia Tuhan. Dia bertawakal atau bersandar pada diri

b)Tawakal kepada harta.

Selagi duit ada dalam bank, selagi harta ada, selagi kebun ada, aku tak risau. Selagi rumah ada aku tenang. Dia memiliki harta benda yang yang dirasakan dapat membela dia. Dia berTuhankan harta.

c) Tawakal dengan gaji.

Orang yang mendapat gaji bulanan ini dia tenang dengan gajinya. “Selagi aku mendapat gaji bulanan aku bisa hidup, bisa makan, bisa minum, bisa kawin”. Bukan mulut yang berkata tapi perasaannya yang mengatakan seperti itu. Sebab tawakal itu soal batin, soal perasaan. Orang yang mendapat gaji bulanan ini paling tidak bertawakal dengan Tuhan. Bila sudah tanggal gajian, dapat gaji. Untuk apa susah, aku ada gaji. Gaji sudah jadi Tuhan. Sebab itu orang paling tak bertawakal dengan Tuhan adalah orang yang mendapat gaji bulanan. Orang yang paling bertawakal dengan makhluk adalah orang yang mendapat gaji bulanan terutama bila gajinya besar.

d) Tawakal kepada orang.

“Selagi tetangganya ada, karena dia pemurah, dia selalu tolong aku”. Dia tenang dengan tetangga. Dia bertawakal dengan tetangga. Tetangga menjadi Tuhan-nya.

e) Tawakal dengan pemerintah.

Selagi aku dapat bantuan subsidi dari pemerintah, tenang hatiku. Aku bisa makan, aku bisa hidup. Pemerintah menjadi Tuhan.

f) Ada org bertawakal dengan ilmunya.

Dengan ilmuku, aku bisa dapat duit dan harta. Aku berbicara 1 jam saja dapat 300 ribu. Aku counseling 500 ribu. Aku mengajar sebulan bisa dapat 3 juta. Selagi ilmu ini ada, tak perlu bimbang. Tenang hati dan lega rasanya. Dia telah berTuhankan ilmu. Dia berTuhankan akalnya.

Kategori 2. Tawakal Kepada Tuhan Sedikit, Kepada Makhluk Sedikit.

Dia mengakui juga bahwa Tuhan bagi rezeki. Dia tawakal kepada 6 hal di atas sedikit, tawakal kepada Tuhan juga sedikit. Dia orang beragama, mengerjakan sholat, dan berpuasa. Kalau kategori no 1 tadi Tuhan langsung tidak ada. Yang kategori kedua ini Tuhannya ada dua. Tuhan sebenar & Tuhan yang berupa benda-benda tadi baik ilmu, gaji, tetangga, diri atau pemerintah. Pergantungannya bercampur antara makhluk dengan Tuhan. Seolah-olah makhluk setaraf dengan Tuhan. Ini soal batin, mungkin tidak pernah diucapkan. Tawakal itu faktor hati dan faktor ruh.

Kategori 3. Tidak Tawakal Kepada Tuhan dan Tidak bertawakal Kepada Makhluk.

Dengan Tuhan tidak bertawakal itu mudah saja. Memang dia tidak pikir dan tidak kenal Tuhan. Dengan makhluk dia tak bergantung, tidak ada gaji, tidak ada pangkat, badan tidak sehat sehat, “aku ni mau jadi apa?”

Kalau panjang umur dia akan gila sebab hidup dia tak ada tempat bergantung. Dia tidak tawakal pada Tuhan, kepada makhluk pun juga tidak. Dia rugi dunia akhirat. Dia kecewa putus asa, di akhirat masuk neraka sebab tidak kenal Tuhan.

Kategori 4. Inilah orang yang Bertaqwa. Orang ini semata-mata bersandar dengan Tuhan

Walau dia banyak harta, dia tak pikir harta itu sebab Tuhan bisa tarik balik. Dia tidak bersandar dengan pangkat, pangkat juga bisa dicopot. Begitu juga dia tak bersandar pada diri sebab Tuhan bisa binasakan diri dia. Tuhan bisa tarik apapun yang ada pada diri dia. Begitu juga dia tak bersandar dengan ilmu, Sewaktu-waktu dia bisa dengan mudah menjadi lalai & gila. Ilmu itu tidak dapat lagi membelanya.

Orang seperti ini, kalau dia tidak ada harta, pangkat, dan jabatan, dia akan semakin bersandar kepada Allah. Kalau ada pun dia tidak bersandar dengan semua itu. Sebab kalau ada pun sewaktu-waktu Tuhan bisa tarik balik. Inilah kategori tawakal yang sejati. Untuk tawakal sungguh susah. Selalu di tipu dengan setan yang halus.

Kalau begitu, apakah kita tidak disuruh berusaha? Tidak perlu cari ilmu? Tidak perlu memegang jabatan? TIDAK, itu semua syariat. Semua aktivitas yang dibuat, baik berbentuk jabatan, gaji, dan ilmu itu memang harus dibuat. Itu syariat atau perintah Tuhan yang menyebabkan seseorang dapat pahala. Ilmu kalau kita pelajari mengikuti syariat, kita akan dapat pahala. Kalau kita memiliki jabatan, dan kita emban jabatan itu ikut syariat, itu ada pahala di sisi Tuhan. Ilmu, jabatan, harta, perlu dibuat sebagai sistem Islam tapi jangan bersandar kepada mereka seolah mereka yang memberi bekas kepada kita.

Mengapa orang payah dapat taqwa ?

Faktor hati! Faktor tidak menyerah bulat-bulat kepada Tuhan. Dia masih merasa faktor ilmu, faktor pangkat, yang menjayakan dia. Jadi kalau orang tak tawakal kepada Tuhan, tapi tawakal kepada diri, pangkat, dan pemerintah, maka dia syirik khafi. Akidah sudah cacat, dosa besar cuma tak kekal dalam neraka. Di sinilah banyak orang sangkut mengapa susah hendak bertaqwa.

Sembahyang malam mudah, berkorban mudah tapi tawakal susah. Di sinilah tersangkut terutama orang makan gaji. Moga-moga kuliah ini jadi panduan kita menyuluh batin kita, untuk kita membetulkan batin kita supaya jadi bertaqwa sehingga dapat bantuan dari Tuhan.

masjid_raya_al-azhom-resixe.jpg

Rasulullah telah bersabda yang artinya :

“Anak kunci kepada shalat itu adalah bersuci”

[ Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi ]

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya bersuci didalam Islam. Malangnya, orang di akhir zaman ini kurang memperhatikan mengenai masalah bersuci ini. Saya ambil 2 bukti betapa masalah bersuci ini sudah tidak dipahami oleh orang di akhir zaman ini bahkan oleh ulama.

  1. Penggunaan urinoir untuk buang air kecil.

urinoir.jpg

Banyak masjid menyediakan urinoir untuk buang air kecil. Kalau di gedung perkantoran, urinoir merupakan perlengkapan standar toilet. Padahal, secara syariat, Rasulullah saw tidak memperbolehkan buang air kecil sambil berdiri. Sunnah Rasulullah saw, buanglah air kecil sambil jongkok jangan berdiri.

Selanjutnya, berkaitan dengan bersuci, penggunaan urionir untuk buang air kecil jelas tidak memenuhi spesifikasi bersuci menurut Islam. Mengapa begitu?

a) ketika menggunkan urinoir, percikan air najis akan mengenai celana. Walaupun setetes, najis di celana yang tidak disucikan tetap tidak sah digunakan untuk shalat.

b) untuk mensucikan najis di kemaluan agar suci, gunakan air yang mengalir. Tapi apa yang berlaku ketika menggunakan urinoir? Biasanya orang akan membasahi jemarinya dengan air dari keran kecil di urionir. Kemudian jemari yang basah itu digunakan untuk membersihkan najis. Bicara soal bersih memang bisa bersih tetapi tidak suci. Air yang ada di jemari yang basah itu bukan air mutlak (kurang dari 2 kullah dan tidak mengalir). So, bukannya suci, justru najis malah diratakan.

2. Di kamar mandi tidak ada memakai sandal (alas kaki).

images.jpg

Di banyak masjid, tempat wudhu dibuat terintegrasi dengan toilet. Salah satu kesalahan fatal dalam hal ini adalah tidak disediakannya sandal(alas kaki) untuk dipakai di dalam toilet. Lantai toilet siapa yang menjamin bebas dari najis yang terpercik walaupun hanya setetes. Tidak ada yang bisa menjaminnya. Sedangkan lantai toilet yang basah (air pasti kurang dari 2 kullah) bila terpercik setetes najis akan berubah menjadi najis semua. Tanpa alas kaki (sandal) najis itu akan dibawa keluar ke tempat wudhu yang membuat lantai tempat wudhu pun jadi bernajis. Artinya setelah selesai berwudhu kita injak lantai yang basah itu (bernajis) kaki kita kembali kena najis. Yang kemudiannya kita bawa ke tempat shalat.

Itulah dua potret betapa masalah bersuci ini sudah tidak lagi dipahami oleh umat Islam di akhir zaman ini. Patutlah Allah tidak bantu umat Islam karena bersuci yang menjadi anak kunci kepada ibadah sholat sudah tidak diperhatikan.

Itu baru bicara bersuci yang lahiriah. Itupun sudah sangat banyak umat Islam yang tidak memahaminya. Padahal Islam menuntut bersuci yang jauh lebih luas dari itu. Islam menuntut kebersihan anggota badan dari dosa. Seperti mata dijaga dari memandang wanita yang bukan muhrim, tangan dari mencuri, telinga dari mendengar hal yang melalaikan.

Sifat keji juga harus disucikan dari batin kita. Seperti riyak, ujub, hasad dengki, gila pangkat, gila dunia, bakhil dan lain sebagainya. Mensucikan anggota badan dan anggita batin dari dosa dan sifat keji jauh lebih susah.

ALLAH SWT berfirman di dalam Al Quran:

Maksudnya: “Dan bagi setiap generasi ada yang memberi petunjuk.” (Ar Raad: 7)

Petunjuk yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah rasul-rasul dan nabi-nabi. Artinya setiap zaman, Allah pasti akan mendatangkan orang-Nya yang menjadi petunjuk kepada manusia.

Di zaman ada rasul maka rasul membawa syariat baru dari Allah. Di zaman tiada rasul, nabi-nabi didatangkan untuk menyampaikan syariat rasul yang sebelumnya. Manakala disegi aqidahnya tetap sama, yakni setiap rasul datang untuk mengenalkan Allah sebagai Tuhan kepada manusia. Cuma syariat yang berbeda.

Sepanjang umur dunia, Allah sudah mengutus 313 orang rasul. Ada juga yang mengatakan 314 atau 315 orang rasul semuanya. Bilangan nabi sebanyak 124 ribu orang. Nabi-nabi ini datang di antara atau di celah-celah kedatangan rasul. Ada juga yang datang bersama-sama dengan kedatangan rasul.

Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Selepasnya tiada lagi nabi atau rasul sebab baginda ialah Nabi akhir zaman. Selepas kewafatan baginda SAW, dunia bersambung untuk 15 kurun lagi sebelum Kiamat. Artinya selama 1500 tahun, manusia mempunyai nabi yang telah wafat. Apa artinya ini?

RASULULLAH TERUS MEMIMPIN

muhammad.jpg

Kewafatan Rasulullah SAW bukan bermakna berakhinya misi baginda sebagai rasul dan nabi. Bahkan ketika saat kematiannya baginda menyebut, “”Ummati, ummati ” Tangisan baginda mengenang nasib umatnya itu membawa arti bagindalah yang akan menyelamatkan umatnya dengan izin Allah. Sebagai Rasul, tentu Allah ada cara-Nya untuk melakukan peranan seorang yang sudah wafat dapat menyelamatkan orang yang hidup.

Hal ini bukan suatu yang mustahil. Dalam kitab-kitab terdapat banyak kisah menceritakan bagaimana orang mati (roh orang soleh) dapat membantu orang hidup. Kalau orang soleh pun dapat membantu secara roh, tentulah hal ini Tuhan benarkan berlaku kepada Rasulullah SAW selepas kewafatannya dalam memikul tugas sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman. Bahkan sebelum kelahirannya, roh atau nur Muhammad yang suci itu telah berperanan. Nabi ‘Adam a.s. pernah bertawasul dengan Rasulullah SAW apabila melihat nama Muhammad digandingkan dengan nama Allah di Syurga.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, bumi telah mengadu kepada Tuhan mengapa tiada lagi nabi yang berjalan di atasnya sesudah Nabi Muhammad SAW. Amirul Mukminin Sayidina Ali k.w. juga telah berdoa: “Ya Allah, ya Tuhanku! Biarlah bumi ini tidak sepi dari penegak agama-Mu dengan hujah, sama ada secara terang-terangan ataupun secara sembunyi. “

Walau bagaimanapun, dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT, bumi ini sebenamya tidak pernah lengang dari para ulama yang hak dan para kekasih Allah dari kalangan wali Autad dan Abdal yang membawa manusia kembali kepada Tuhan.
Rasulullah SAW bersabda:

Maksudnya: “Bahwa para ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tiada mewariskan umatnya uang, tetapi mereka mewariskan umatnya ilmu pengetahuan.” (Hadis diriwayatkan daripada Anus, tersebut dalam kitab Al Jamius Shoghir)

Dalam Hadis yang lain Rasulullah bersabda: .

Maksudnya: “Para ulama umatku sama seperti para nabi Bani Israil.” (Menurut Fakhrurrazi, Ibnu Qudamah, Al Baziri dan lain-lain)

Nabi-nabi Bani Israil yang dimaksudkan dalam Hadis di atas, mereka muncul di celah-celah terputusnya kezahiran para rasul Bani Israil. Contohnya Nabi Samuel a.s. yang muncuI di waktu kekosongan rasul iaitu setelah berlalunya zaman Nabi Zulkifli a.s. dan sebelum kedatangan Nabi Daud a.s. Manakala setelah kewafatan Rasulullah SAW, tidak ada lagi nabi selepasnya. Lalu Rasulullah mengibaratkan para ulama yang hak di kalangan umatnya ini sebagai pewarisnya dan menggantikannya dalam tugas memikul tanggungjawab meneruskan seruan agama Allah SWT. Begitu sekali nabi memuliakan para ulama di kalangan umatnya dari segi peranan menyampaikan seruan, bukan dari sudut darjat kenabian.

Begitu juga dengan rahmat Allah Swt, di sepanjang zaman hingga kini dunia tidak pemah putus dari adanya para wali Autad dan Abdal yang karena ketaqwaan merekalah Allah turunkan rahmat-Nya ke muka bumi. Cuma mereka tidak dikenali umum. Tetapi bagi para mujaddid yang zahir setiap awal kurun, kepimpinan mereka lebih terserlah berbanding ulama-ulama lain. Ini karena mereka adalah ulama yang berwatak rasul (yakni mereka mendidik dan memimpin manusia menuju Tuhan). Oleh itu menjadi tanggungjawab umat Islam di setiap awal kurun untuk mencari mujaddid di kurunnya karena ia adalah khabar gembira dari Rasul.

KEPIMPINAN RASULULLAH MELALUI MUJADDID

Nampaknya teknik yang digunakan oleh Allah untuk membolehkan Rasulullah SAW terus memimpin umat setelah kewafatannya itu boleh dibaca dalam sabda Rasulullah SAW iaitu:

Maksudnya: Dari Abu Hurairah r.a. katanya bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengu tus pada umat ini di setiap awal 100 tahun seorang (mujaddid) yang akan memperbaharui urusan agama mereka. ” (Riwayat Abu Daud)

Jadi berdasarkan Hadis tadi, jelas bahawa di setiap awal kurun (Hijriah), Allah utuskan seorang mujaddid.

Mujaddid ertinya orang yang membawa pembaharuan. Dalam bahasa Inggeris dikatakan ‘reformer’ yang bererti pembaharu. Tugas mujaddid adalah untuk memperbaharui urusan agama. Mujaddid datang bukan membawa agama baru atau memperbaharui isi Al Quran. Mereka tetap membawa isi Islam sepertimana yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Cuma penafsiran tentang isi Al Quran dan Hadis itu saja. Yang diperbaharui melalui ilham dari Tuhan yang mana penafsiran itulah yang paling tepat dan sesuai untukdiamalkan di zamannya.

Roh Rasulullah SAW diizinkan Allah untuk hadir (yaqazah) mengajarkan melalui ilham yang jatuh ke hati para mujaddid. Hakikatnya Rasulullah-lah yang melakukan tugasan sebagai Nabi akhir zaman untuk menghidupkan agama Islam atau Al-Quran dan Sunnah setiap 100 tahun sekali.

Rasulullah-lah yang memonitor setiap mujaddid sehingga mereka bukan hanya mampu mentafsirkan Al Quran dan Sunnah tetapi juga mengamalkannya dalam diri, keluarga, jemaah dan perjuangannya. Sehingga jadilah setiap mujaddid yang lahir di awal kurun itu umpama ‘Al-Quran bergerak’ di kurun tersebut. Keindahan Islam yang dibawa dan diperjuangkannya berjaya menjadi contoh atau role model, sehingga hasilnya manusia jatuh hati kepada Tuhan dan syariat-Nya.

Mengapa Tuhan mengambil kaedah ‘mujaddid’ sebagai saluran untuk Rasulullah berperanan?

Ini adalah karena Allah mahu menunjukkan kuasa-Nya yang Maha Agung terhadap Nabi Muhammad SAW yang mana Nur Muhammad itu adalah lebih dominan daripada fisiknya. la kekal wujud dan berperanan sejak awal-awal diciptakan sebagai ciptaan paling utama. la akan terus berperanan walaupun terhadap makhluk paling akhir yang akan dimatikan.

Jasad Rasulullah SAW yang kekal tidak reput, yang ada di bumi Madinah itu pun merupakan satu kekuatan simbolik umat Islam. Ditambah lagi dengan roh baginda yang cukup kuat dan aktif bekerja sesudah wafatnya adalah satu kekuatan tersirat kedua yang menjadi kekuatan juga lagi untuk umat Islam.

Ajarannya terus menguasai dan akan bangkit sekali lagi untuk memerintah dunia seluruhnya. Grand design oleh Allah dan Rasul ini adalah percaturan paling licik, membuatkan musuh-musuh-Nya akhirnya menyerah diri kepada Allah dan menerima agama Muhammad.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.