UMAT AKHIR ZAMAN YANG JAHIL DALAM BERSUCI

Rasulullah telah bersabda yang artinya :
“Anak kunci kepada shalat itu adalah bersuci”
[ Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi ]
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya bersuci didalam Islam. Malangnya, orang di akhir zaman ini kurang memperhatikan mengenai masalah bersuci ini. Saya ambil 2 bukti betapa masalah bersuci ini sudah tidak dipahami oleh orang di akhir zaman ini bahkan oleh ulama.
- Penggunaan urinoir untuk buang air kecil.
![]()
Banyak masjid menyediakan urinoir untuk buang air kecil. Kalau di gedung perkantoran, urinoir merupakan perlengkapan standar toilet. Padahal, secara syariat, Rasulullah saw tidak memperbolehkan buang air kecil sambil berdiri. Sunnah Rasulullah saw, buanglah air kecil sambil jongkok jangan berdiri.
Selanjutnya, berkaitan dengan bersuci, penggunaan urionir untuk buang air kecil jelas tidak memenuhi spesifikasi bersuci menurut Islam. Mengapa begitu?
a) ketika menggunkan urinoir, percikan air najis akan mengenai celana. Walaupun setetes, najis di celana yang tidak disucikan tetap tidak sah digunakan untuk shalat.
b) untuk mensucikan najis di kemaluan agar suci, gunakan air yang mengalir. Tapi apa yang berlaku ketika menggunakan urinoir? Biasanya orang akan membasahi jemarinya dengan air dari keran kecil di urionir. Kemudian jemari yang basah itu digunakan untuk membersihkan najis. Bicara soal bersih memang bisa bersih tetapi tidak suci. Air yang ada di jemari yang basah itu bukan air mutlak (kurang dari 2 kullah dan tidak mengalir). So, bukannya suci, justru najis malah diratakan.
2. Di kamar mandi tidak ada memakai sandal (alas kaki).
![]()
Di banyak masjid, tempat wudhu dibuat terintegrasi dengan toilet. Salah satu kesalahan fatal dalam hal ini adalah tidak disediakannya sandal(alas kaki) untuk dipakai di dalam toilet. Lantai toilet siapa yang menjamin bebas dari najis yang terpercik walaupun hanya setetes. Tidak ada yang bisa menjaminnya. Sedangkan lantai toilet yang basah (air pasti kurang dari 2 kullah) bila terpercik setetes najis akan berubah menjadi najis semua. Tanpa alas kaki (sandal) najis itu akan dibawa keluar ke tempat wudhu yang membuat lantai tempat wudhu pun jadi bernajis. Artinya setelah selesai berwudhu kita injak lantai yang basah itu (bernajis) kaki kita kembali kena najis. Yang kemudiannya kita bawa ke tempat shalat.
Itulah dua potret betapa masalah bersuci ini sudah tidak lagi dipahami oleh umat Islam di akhir zaman ini. Patutlah Allah tidak bantu umat Islam karena bersuci yang menjadi anak kunci kepada ibadah sholat sudah tidak diperhatikan.
Itu baru bicara bersuci yang lahiriah. Itupun sudah sangat banyak umat Islam yang tidak memahaminya. Padahal Islam menuntut bersuci yang jauh lebih luas dari itu. Islam menuntut kebersihan anggota badan dari dosa. Seperti mata dijaga dari memandang wanita yang bukan muhrim, tangan dari mencuri, telinga dari mendengar hal yang melalaikan.
Sifat keji juga harus disucikan dari batin kita. Seperti riyak, ujub, hasad dengki, gila pangkat, gila dunia, bakhil dan lain sebagainya. Mensucikan anggota badan dan anggita batin dari dosa dan sifat keji jauh lebih susah.
mas Makhfud, artikel ini mungkin kelihatan sepele atau kecil saja. Tapi sebetulnya sangat2 PENTING, karena boleh jadi karena hal begini yang gak beres, SHALAT kita gak diterima…Gimana mau diterima?Lha wong Syarat Sahnya saja ( kesucian ) tidak terpenuhi..
Saya sarankan para netter yang mampir kesini untuk membaca artikel ini…
moga2 Allah ampunkan kita karena kejahilan kita selama ini…
Bagusnya bikin kampanye Gerakan Memakai Sandal Dalam Toilet mas Makhfud…
memang gila situasi di akhir zaman ini. Kejahilannya sungguh luar biasa. Syukurlah Tuhan datangkan Abuya untuk mengingatkan kita kembali akan sunnah Nabi ini.
trus solusi untuk kantor2 yang make urinoir apaan donk???
Desainer urinoir begitu cerdik sehingga membuat banyak umat Islam tidak sah sembahyangnya tanpa sadar.
Tuhan bagi kita akal. So, cobalah cari akal gimana bisa menghindar dari makhluk yang bernama urinoir ini
iya mas,
sekarangpun, toliet di masjid tidak sediakan sandal. Blm lagi urinoir telah menjadi wadah buang air kecil yg umum dijumpai di toilet masjid2 besar di perkotaan.
smoga segera ada fikir bersama soal ini
Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.
Jongkokpun, senjata kita musti di arahkan ketempat yang tidak membuat air kencing terciprat-ciprat.
Habis kencing (untuk laki2) akan lebih baik jika senjatanya diurut sebentar kearah luar, supaya sisa air kencing yang ada tuntas keluar semua.
Kalau perlu habis kencing sebelum memakai celana, kita senam-senam sebentar supaya jika ada sisa air kencing bisa keluar saat itu juga. Sudah lumrah laki2 alami air kencing kadang keluar sedikit lagi saat selesai kencing.
Bagi pekerja-pekerja Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat berhati-hati sudah lumrah jika menaruh tisyu di ujung senjata didalam celana setelah selesai mensucikan senjata.
solusi untuk amannya..kalau buang air kecil mending di toilet aja. Udah gitu cara membasuhnya pake air kran yang ngalir ( air suci ). Jangan lupa pakai sandal…
Solusi global nya ..kita umat Islam mesti ada sistem yang kuat yang mampu dizahirkan. Itulah perlunya kita mencari pemimpin Islam yang bertaraf MUJADDID…
assalamualaikum saya dari terengganu,malaysia.boleh saya join..
waalaikumsalam cik Ibrahim.
your welcome
assalamualaikum W.Wb
Salam Sejahtera bagi Saudara – saudaraku seiman
saya daripada Indonesia, tepatnya tinggal di P.Bintan Kep.Riau
ingin sharing …..Bolehlah kirim ke alamat Email saye di jay_pol72@yahoo.com
assalamualaikum ww
mau bertanya lagi mas makhfud..
kira2 ada ga tuntunan dari Rasulullah SAW dari hadis tentang petunjuk/ adab-adab dalam bersuci..
apakah suatu keharusan untuk memakai sandal dalam toilet. Bukankah cukup untuk menyiram lantai toilet tersebut dengan air hingga muncul keyakinan bahwa lantai dalam keadaan suci…apakah tidak sama analoginya dengan menggunakan sandal tetapi sandalnya telah kecipratan najis dari pengguna sebelumnya…kan sandalnya juga jd ga suci..maka orangnya jg kena tetesan najis tersebut..
mohon penjelasannya
wassalamualaikum
Tanggapan dari Pak Waskita:
Lantai toilet dapat saja dibuat suci dengan cara disiram, cuma ada
beberapa hal:
1. Ada toilet yang pembuangan airnya tidak lancar, sehingga air agak
menggenang. sulit untuk memastikan bahwa air yang mengandung najis
tidak
beredar lagi ke daerah yang sudah disucikan
2. Perlu air lumayan banyak, terutama kalau toiletnya besar
3. Perlu waktu lumayan lama dibandingkan pakai sandal saja.
4. membuat suci sebuah sandal lebih mudah dan cepat dibandingkan
mensucikan seluruh lantai toilet
Tanggapan dari Pak Indratmoko:
Kalau kamar mandi bisa dijaga kesuciannya dalam arti seluruh penghuni
rumah
adalah orang-2 dewasa dan semua benar-2 mengerti bagaimana memelihara
kesucian kamar mandi, sebenarnya tak perlu ada sandal.
Yg saya dengar dan pernah saya saksikan juga, dalam kamar mandi di
rumah
Abuya tidak ada sandal karena Ummi sentiasa menjaga kesuciannya.
Kalau untuk kebanyakan kita memang harus ada sandal, kita ada
anak-anak,
kadang ada tamu, pembantu juga walau sudah diajari tapi karena belum
satu
guru, kita bisa ragu juga. Juga harus pasti bahwa kotoran hanya masuk
di
lubang kotoran, tak ada yg buang air kecil/besar di lantai karena najis
bisa mengendap atau membentuk lapisan di lantai shg tak hilang dgn
disiram.
Jadi kalau sang penanya mengasumsikan kondisi-2 diatas, saya pikir
feeling
sang penanya itu ada benarnya juga. Itu bukanlah suatu aturan, cuma
karena
sulitnya menjamin terjadinya hal-2 yg diasumsikan itu secara sempurna,
maka
jauuuh lebih mudah menyediakan sandal. Menyediakan sandal sebagai tanda
kesungguhan kita memelihara kesucian, dan itu diatas kepasrahan kita
bahwa
itulah yg terbaik yang mungkin kita upayakan. Ketidaksempurnaan yg
mungkin
terjadi dlm penggunaan sandal kita mohonkan ampunan-Nya saja.
Pingback: Susahnya shalat zaman sekarang « Waskita Adijarto
Lantai toilet dapat saja dibuat suci dengan cara disiram, cuma ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan:
Ada toilet yang pembuangan airnya tidak lancar, sehingga air agak menggenang.
Kalau terjadi seperti ini, sulit untuk memastikan bahwa air yang mengandung
najis tidak beredar lagi ke daerah yang sudah disucikan
Perlu air lumayan banyak, terutama kalau toiletnya besar
Perlu waktu lumayan lama dibandingkan pakai sandal saja.
Membuat suci sebuah sandal lebih mudah dan cepat dibandingkan mensucikan
seluruh lantai toilet
Alhamdulillah dpt ikut meramaikan,mdh2an ada keberkahanya.Memang Benarlah dan terbukti sudah sabda Rasulullah Saw bahwa diakhir zaman banyak Ulama yg fasiq dan ahli ibadah yg jahil.Mari kita selamatkan diri kita dan mengajak saudara2 utk terhindar dari kejahilan dengan mencari pimpinan dari ulama yg’ berwatak Rasul’ yg dipimpin ALLAH dizaman ini.
Abu atiyah, makasi dah mampir. Kita, kalau Abuya tidak beritahu perihal ini kita pun tidak tahu.
berkenaan dengan pandangan arsitektur Islam mengenai tempat bersuci bisa anda lihat di http://www.archirevo.com. Di website ini anda pun akan menemukan kritisasi wujud-wujud arsitektural yang tidak Islami beserta solusinya. Silahkan buka dan beri komentar
Mudah-mudahan kita tdk trmasuk ahli ibadah yg jahil.kita juga tdk menyadari apakh kita tau sendiri diri kita.mudahan kita slalu berada di jalan yg benar.Berpegang teguhlah dengan Alqur’an dan sunah Nabi.insya Allah mudahan kita slalu dpt ptunjuk drNya