5 Musuh Mukmin (1)

Kejayaan manusia apabila dia mampu menjadi mukmin sejati. Bukan mudah menjadi seorang mukmin sejati karena dia harus berhadapan dengan 5 jenis musuh, sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud yang bermaksud:

“Mukmin itu ada bersamanya lima musuh iaitu: orang mukmin yang hasad dengki, munafik yang memarahinya, orang kafir yang memeranginya, syaitan yang menyesatkannya dan nafsu yang mengajak kepada kejahatan.”

Firman Allah SWT:

Terjemahannya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

Orang yang merasakan betapa susahnya melawan nafsu akan berhadapan dengan tiga kesusahan yaitu:

a. Susah hendak mengesan nafsu yang abstrak, yang maknawiyah, yang terlalu halus sehingga hingga terpaksa mempelajarinya (mencari ilmunya).

b. Bila sudah tahu, kehendak hati nuraninya terpaksa bertarung dengan kehendak nafsunya. Amat susah untuk tidak mengikuti kehendak-kehendak nafsu.

c. Susah hendak mujahadah terhadap nafsu karena terpaksa membuat bermacam-macam latihan yang berat.

Berikut ini bukti-bukti susahnya melawan salah satu musuh mukmin itu:

1. Kalau ada orang menghina, mengumpat, mencaci maki di depan atau di belakang kita, bagaimana sikap kita? Dapatkah hati kita merasa senang dan tenang? Mudahkah kita tahan hati kita yang sedang bergejolah menahan marah itu? Dapatkah kita diamkan saja tanpa sakit hati atau susah hati atau menyimpan dendam? Dapatkah kita ucapkan “Assalaamualaikum,” dan meniinggalkan mereka dengan senyum manis? Mampukah kita memaafkannya? Tentu tidak mudah. Hati kita tentu sakit dan menderita. Apalagi hendak berbuat baik dengan orang yang berbuat jahat terhadap kita seperti kehendak Rasulullah SAW:

Maksudnya: “Berbuatlah baik pada orang yang berbuat jahat pada kamu.”

2. Kita diuji Allah dengan bermacam-macam ujian seperti hidup miskin. Kita sudah berusaha tetapi tidak juga kaya. Kita ingin pandai. Setelah berusaha, kita tidak juga cerdik. Kita gagal setiap tes. Masyarakat tidak peduli. Diejek karena kemiskinan dan tidak ada pendidikan tinggi. Mudahkah kita tanamkan jiwa besar di waktu itu sehingga kita dapat mandiri dan tidak mempedulikan kata-kata mereka itu? Apakah

di waktu itu kita dapat menahan perasaan dari berkeluhkesah? Dapatkah redha dan baik sangka dengan Allah?

3. Kita lihat ada orang susah, menderita dan melarat. Mungkin kita merasa simpati untuk membantu memberi uang padanya. Ini mungkin mudah dan terasa mulia dilakukan karena orang berkata bahwa kita baik dan pemurah. Disanjung dan dipuji pula. Tetapi untuk duduk setaraf bersama-sama mereka dan menghibur hati mereka, tentu susah. Mampukah kita bergaul dengan mereka? Tidur dan makan minum bersama mereka? Bermesra-mesra dengan mereka? Memberi salam mendahului mereka? Tentu tidak mudah. Nafsu terasa hina dan malu. Terlebih lagi kalau kita mempunyai kedudukan, tentu nafsu merasa rasa jatuh wibawanya.

4. Kita memiliki jabatan penting. Memegang kuasa untuk meluluskan proyek-proyek pembangunan. Rakyat memohon pada kita. Kita tunaikan. Adakalanya ada proyek yang diminta untuk segera dilaksanakan, karena itu kita disogok dengan uang puluhan atau ratusan juta rupiah atau ditawari perempuan-perempuan cantik serta berbagai macam tawaran istimewa lainnya. Apakah mudah untuk menolak tawaran-tawaran istimewa ini? Tentu susah. Nafsu akan mendorong dan membisik-bisikkan supaya peluang emas itu jangan dilepaskan. Inilah yang ditunggu-tunggu selama ini. Kawan-kawan yang setaraf sudah lama merasakan. Tentu nafsu tidak mau kalah. Hendak ditolak, orang lain pun berbuat. Nyata sulitnya melawan nafsu ini.

Itulah sebagian contoh betapa susahnya melawan nafsu yang merupakan satu dari 5 musuh mukmin. Oleh karena itu, mari kita terus bermujahadah yakni berperang dan bertarung dengan nafsu kita sendiri sehinggalah akhir hayat kita. Barulah dikatakan wira sejati. Seperti sabda Rasulullah SAW:

Maksudnya: “Siapakah yang dianggap wira itu?” Kata Sahabat: “Mereka yang tidak dapat dikalahkan (dalam peperangan).” Nabi menjawab: “(Orang yang dianggap wira itu) ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (Riwayat Ibnu Atsir)

Allah SWT juga ada berjanji:

Maksudnya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” (Al A’la: 14)

Maksudnya: “Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 10)

This entry was posted in Akhlak. Bookmark the permalink.

3 Responses to 5 Musuh Mukmin (1)

  1. chahyadi says:

    wah, kayaknya susah bangget ya..but kita harus selalu berusaha…

  2. Makhfud says:

    Yang susah inilah yang perlu kita lawan di bulan Ramadhan ini.

  3. Pingback: Jalan Keluar Dari Kehinaan « MENEMPA SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM AKHIR ZAMAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s