Menolak Sunnatullah Pasti Binasa

Allah SWT menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya termasuk manusia. Allah juga mewujudkan peraturan demi keselamatan dan kesejahteraan mereka, bukan saja di dunia, bahkan juga di Akhirat, tempat tinggal terakhir buat manusia. Peraturan atau syariat Allah yang berlaku di bumi tempat tinggal sementara manusia ini, itulah yang dikatakan sunnatullah. Ia merupakan peraturan yang Allah Taala telah tetapkan untuk manusia. Manusia perlu mengikuti dan mematuhinya. Jika manusia tidak mematuhi dan menolak sunnatullah itu, pasti manusia akan rusak dan binasa. Rusak dan binasa itu pasti terjadi saat di dunia baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang. 

Apabila kita memperkatakan sunnatullah, yaitu satu sistem dan peraturan yang ditentukan oleh Allah Taala buat manusia di dunia ini, ia tidak akan berubah dan siapa pun tidak dapat mengubahnya sejak Allah Taala wujudkan hingga sampai kapan pun.

Firman Allah SWT: Maksudnya: “Karena engkau tidak sekali-kali akan mendapati sebarang perubahan bagi Sunnatullah, engkau tidak sekali-kali akan mendapati sebarang penukaran bagi perjalanan sunnatullah itu.” (Fathir: 43) 

Perlu diingat bahwa sunnatullah itu terbagi kepada dua bagian: 

Pertama:Manusia menerimanya secara terpaksa

Kedua: Manusia menerima secara sukarela 

Firman Allah:Maksudnya: “Dan kepada Allah jualah sekalian makhluk yang ada di langit dan bumi tunduk menurut, baik dengan sukarela atau dengan terpaksa.” (Ar Ra’d: 15) 

1. Secara terpaksa (karhan). Sunnatullah yang pertama, manusia terpaksa menerimanya secara terpaksa (karhan). Di antaranya seperti:

– Jika manusia ingin bernafas, Allah sudah tentukan dengan udara bukan dengan air dan lain-lain.

– Bernafas melalui hidung bukan melalui mata dan lainnya.

– Makan dan minum melalui mulut bukan melalui dubur dan jalan-jalan lain.

– Berjalan menggunakan kaki bukan melalui tangan dan lain-lain. 

2. Secara sukarela (tau’an). Sunnatullah yang kedua ialah Allah Taala membuat peraturan sebagai sunnatullah seperti:

– Makan dan minumlah yang halal seperti nasi dan air mineral, jangan makan dan minum yang haram seperti daging babi dan arak.

– Ingin perempuan hendaknya menikah. Jangan berzina.

– Ingin kaya, berusahalah secara halal seperti berniaga, bertani dan berternak. Jangan mencuri, jangan menipu.

– Jika inginkan keselamatan negara dan masyarakat, perlu menggunakan hukum Allah Taala yang berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

– Kalau mau kehidupan di bidang ekonomi berjalan sehat, tidak ada penipuan dan penindasan, tolaklah sistem riba, monopoli dan memperdagangkan yang haram.

 Jika mau kehidupan manusia seimbang agar terjamin kebahagiaan dan keharmonian, bangunkanlah kehidupan yang bersifat material dan juga pembangunan rohaniah. 

Kedua-dua sunnatullah itu sama ada yang bersifat terpaksa (karhan) maupun bersifat sukarela atau pilihan (tau’an) atau ada usaha memilih untuk melaksanakannya, kalau dilanggar atau tidak dipatuhi, pasti manusia akan binasa di dunia ini sebelum binasa di Akhirat kelak. Sebab-sebab manusia menolak itu mungkin karena manusia itu mau buat peraturan sendiri sebab tidak puas hati dengan peraturan Tuhan. Maka mereka pun membuat sunnah sendiri. 

Sunnatullah yang pertama, tidak ada manusia yang menentang atau menolaknya. Semua orang boleh menerimanya karena dari pengalaman manusia, mereka boleh menerima dengan penuh suka dan puas hati. Tidak ada yang terasa berat meneri manya. Bahkan tidak ada yang merasa inferiority complex menerimanya. Semua menerimanya dengan berpuas hati dan senang hati. Tidak ada yang merasakan kolot, ketinggalan zaman, out of date. 

Tidak ada yang mengatakan, “Ia sudah ketinggalan zaman, semenjak Nabi Allah Adam, manusia bernafas dengan udara. Sudah terlalu lama, sudah kolot. Ini kan zaman sains dan teknologi, zaman IT canggih, tidak sepatutnya kita bernafas dengan udara lagi. Sepatutnya kita bernafas dengan air.” Namun, tiada manusia yang mengatakan seperti itu.  

Mengapa manusia boleh menerima bahkan berpuas hati dengan sunnatullah yang pertama iaitu yang bersifat karhan? Mengapa tidak ada mempertikaikannya? Mengapa tidak merasa kolot menggunakan peraturan yang sudah terlalu lama itu? Manusia boleh menerimanya karena kalau melanggar sunnatullah itu risikonya besar dan cepat sekali rusak binasa hingga dapat membawa kematian. Bahkan sudah banyak yang mati disebabkan air. Cobalah bernafas dengan air! Dapatkah hidup? Dapatkah bernafas? Sudah tentu tidak dapat. Kalau diteruskan juga, saat itu juga binasa. Jadi, karena kalau melanggar sunnatullah yang pertama, yang bersifat terpaksa itu (karhan), manusia akan cepat menerima risikonya, maka tidak ada manusia yang melanggar sunnatullah yang pertama itu. Justru manusia dapat mematuhinya dengan puas hati. 

Di sini manusia merasa selamat menerima sunnatullah yang bersifat karhan. Manusia berpuas hati menerima peraturan itu. Manusia mengakui siapa yang melanggar sunnatullah itu, mereka pasti rusak binasa. Artinya mematuhi peraturan yang bersifat karhan itu, ia sangat menyelamatkan dan menguntungkan manusia. 

Bagaimanapun, manusia susah untuk menerima sunnatullah yang kedua iaitu yang bersifat sukarela (tau’an). Termasuk sebagian besar umat Islam di dunia di akhir zaman ini. Allah Taala membenarkan manusia untuk memilih menerima atau menolak sunnatullah yang bersifat tau’an ini tetapi risikonya tetap ada bahkan lebih besar lagi. Baik yang akan berlaku di dunia, betapalah yang akan ditimpakan di Akhirat kelak. 

Umat Islam sendiri merasa malu untuk menerimanya, ragu melaksanakannya, takut tidak maju, takut huru-hara, malu dengan yang bukan Islam. Ia dianggap ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai lagi. “Sekarang zaman sains dan teknologi, zaman IT canggih, bukan zaman unta.” Begitulah umat Islam sendiri dengan penuh angkuh dan sombong menolaknya. Bahkan benci dan prejudis terhadap pejuang-pejuang yang hendak menegakkan sunnatullah kedua yang bersifat tau’an ini. 

Banyak manusia yang menolak, termasuklah sebagian besar umat Islam, karena apabila menolak sunnatullah yang kedua ini risikonya lambat. Kebinasaan dan kerusakan tidak langsung berlaku di waktu itu juga. Ianya lambat berlaku. Adakalanya setelah sepuluh tahun, lima belas tahun atau dua puluh tahun baru dirasakan akibatnya. Sehingga apabila risiko dan kerusakan menimpa, di waktu itu mereka sudah tidak dapat mengkaitkan lagi ia dengan perlanggaran dan penolakan sunnatullah yang dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu. 

Karena itulah, kalau ada orang atau golongan yang sadar, memberitahu kerusakan moral, tindak pidana, perpecahan dan lain-lain lagi yang berlaku sekarang ini disebabkan kita sejak dahulu telah melanggar sunnatullah, mereka akan menolaknya. Bahkan marah dan bermusuhan dengan orang itu. Mereka tidak dapat mengaitkan gejala sosial yang berlaku, yang telah merusakkan masyarakat hari ini dengan kesalahan mereka menolak hukum atau sunnatullah itu. 

Sebagai contoh, keruntuhan akhlak dan gejala tidak sihat yang berlaku di dalam masyarakat sekarang seperti permasalahan remaja, budaya kongkow-kongkow, vandalisme, rompak, samun, suap, krisis rumah tangga dan sebagainya itu adalah akibat dari apa yang kita telah lakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Ia berlaku apabila sistem pendidikan tidak mengikut syariat Allah, system ekonomi berdasarkan kapitalisme, perlembagaan negara bertentangan dengan sunnatullah yaitu tidak mengikut Al Quran dan Hadis, masyarakat kita tidak dihalang dari pergaulan bebas dan media massa tidak dikawal dari memaparkan apa yang dilarang oleh Allah seperti memamerkan gambar-gambar porno yang merangsang nafsu. Jadi, gejala sosial yang berlaku adalah buah dari benih yang sudah lama kita tanam. Oleh karena itu, jelaslah kepada kita bahwa sunnatullah yang kedua ini yang bersifat tau’an, jangan dilanggar. Kalau dilanggar tetap memudarat dan merusakkan masyarakat manusia tetapi memakan waktu yang panjang baru nampak risikonya. Setelah lama barulah terlihat kesannya. Baik sunnatullah yang pertama maupun yang kedua, yang bersifat karhan mahupun yang bersifat tau’an, kalau dilanggar juga kita akan binasa. Hidup kita akan huru-hara. Masyarakat kita akan pincang. Kebahagiaan kita akan tergugat dan keharmonian kita akan hilang. Cuma pelanggaran yang pertama cepat kebinasaannya tetapi pelanggaran yang kedua lambat. Itu saja bedanya. 

Justeru itu kalau kita didapati di dalam masyarakat kita terjadi berbagai tindak pidana, kerusakan akhlak, krisis, dan bahkan bencana alam, cepatlah rujuk kepada Allah Taala. Jangan lengah lagi. Muhasabah diri dan sistem yang kita bangunkan. Ada atau tidak pelanggaran sunnatullah itu. Kalau didapati ada pelanggaran, perlu segera dibetulkan. Patuhi sunnatullah, kemudian memohon ampun sebanyak-banyaknya kepada-Nya sebelum Allah Taala menimpakan balasan dan hukuman yang lebih berat dan lebih dasyat lagi. 

This entry was posted in Tauhid. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s