Jaminan Rezeki Dari Tuhan

 

 

933955354_b84053fb4e.jpg


Lihat ungkapan orang di akhir zaman: “kalau nggak ada duit mau makan apa”. “Kalau kena PHK (dipecat), nanti anak istri mau dikasih makan apa?”. “Gila, harga barang-barang naik semua. Bisa makan pasir ni kalau begini terus”

Itulah ungkapan yang sering kita dengar di sekitar kita di akhir zaman ini. Mengenai rezeki ini, Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi menulis:

Sepatutnya kita hamba Allah,

tentang rezeki tidak perlu bimbang

Selama hamba itu hidup, ada jaminan dari Tuhan

Sedangkan seorang ayah terhadap anak-anaknya pun bertanggungjawab

Betapalah Tuhan yang bersifat Rahman terhadap hamba-hamba-Nya,

mesti ada jaminan

Kerana itu baik sangka kepada Tuhan perlu,

dan bertawakal kepada-Nya untuk ketenangan

Yang penting kepada seorang hamba berusaha

mencari hidayah, taqwa dan iman

Yang ini kenalah dibimbangkan

Yang ini kenalah benar-benar struggle memperolehinya,

tidak boleh bersenang-senang

Hidayah, iman dan taqwa kenalah cari

bersungguh-sungguh

Ilmunya kena cari, bersungguh-sungguh amalkan,

istiqamah dan perlukan pimpinan

Kemudian tentang rezeki, Allahlah memberi jaminan

Bukankah Tuhan pernah berkata yang bermaksud:

“Barangsiapa yang bertaqwa, rezekinya dijamin

yang tidak diketahui mana sumber datangnya”

Dosanya diampun, amalannya diterima

Tuhan jaga mereka daripada tipuan syaitan

Musuh-musuh tidak dapat menipu dayanya

Mereka dijamin diberi kemenangan

Oleh itu rezeki janganlah dibimbangkan

Yang perlu, kita dekatkan diri kepada Tuhan

Bila jadi orang Tuhan segala-galanya ada jaminan

This entry was posted in Nasehat, Tauhid. Bookmark the permalink.

4 Responses to Jaminan Rezeki Dari Tuhan

  1. waskita says:

    Kita di dunia sering mengatakan “kalau nggak ada duit mau makan apa”. Yang agak
    lebih berpikiran panjang berkata: “gimana caranya supaya saya seminggu ke depan
    terjamin makanannya”. Nah kalau mau diteruskan sebenarnya bisa sampai dengan:
    “Nanti di akhirat mau makan apa ?”. Padahal di akhirat itu yang susah, susah sekali,
    yang senang, senang sekali. Kalau di akhirat sampai nggak makan, ya memang asli
    sengsara. Untuk itulah kita perlu bekal
    taqwa
    untuk ke akhirat. Semoga Allah memelihara kita di dunia maupun di akhirat

  2. Makhfud says:

    Itu pak yang jarang dipikir oleh manusia di akhir zaman ini.

    Di akhirat ntar mau makan apa ya???

    Karena iman manusia di akhir zaman ini sudah terlalu tipis (seperti yang disabdakan baginda Rasulullah saw) maka hal akhirat yang kekal abadi tidak diambil berat. Semua orang sibuk memikirkan jaminan hidupnya setelah pensiun bekerja. TApi sangat jarang orang yang mempersiapkan jaminan hidupnya setelah PENSIUN DARI DUNIA INI (MATI).

    Betul sekali Pak Was, jsminan itu ada pada IMAM DAN TAQWA.

  3. fajar says:

    taqwa tu bermaksud kena berzikir banyak-banyak sahaja je ke? Mencari rezeki tu tak termasuk dalam amal soleh ke? Sebab bila kita ada harta barulah boleh nak buat amal taqwa dengan bersedekah dan lain-lain.

    Rasulullah s.a.w. sendiri pun berniaga begitu juga sahabat-sahabat baginda seperti Saidina Uthman dan Saidina Abdul Rahman Ibn Auf…. Tak ke umat Islam dah menguasai sebahagian besar dunia pada zaman dahulu. Yang tu tak termasuk amal soleh ke?

    Adakah ia bermaksud mencari rezeki itu haram? Adakah bermaksud bila Allah dah jamin rezeki, kita tak perlu berusaha?

    Tak ke ada hadis yang menyatakan bahawa nafkah yang diberikan oleh seorang lelaki kepada isterinya dianggap sedekah. Kalau dah isteri bertaqwa dan ada rezeki yang datang, tak perlu la diberi nafkah…

    Tak ke Rasulullah s.a.w. sendiri pernah ikat perut sebab lapar? Tak ke Rasulullah s.a.w pernah belah sebiji kurma untuk kongsi dengan Saidatina Aisyah? Tak ke dapur Rasulullah s.a.w pernah tak berasap selama sebulan?

    Tak ke Saidina Ali pernah bekerja dan mendapat upah sebiji kurma untuk satu baldi air yang dia timba dalam keadaan kelaparan? Itu tak mencari rezeki ke?

    Apa yang saya harapkan hanyalah penjelasan…

  4. Makhfud says:

    Bapak Fajar,

    Usaha mencari rizki adalah perintah Allah dan merupakan Sunnah Rasulullah. Persis seperti yang Bapak contohkan.

    Namun, datangnya rezeki adalah hak Allah. Kita dapat rezeki itu atau tidak itu adalah hak Allah. Kita disuruh berusaha mencari rizki tapi Allah-lah yang menentukan datang atau tidaknya rezeki itu.

    Oleh karena itu, dalam berusaha mencari rezeki itu kita tidak perlu membimbangkan hasilnya. YAng perlu kita bimbangkan adalah apakah dalam usaha mencari rezeki itu iman dan taqwa tergadai? Apakah dalam berniaga kita bisa dapat iman dan taqwa? Apakah sholat bisa tepat pada waktunya? Dalam berniaga/bekerja kita bisa amanah?

    Di akhir zaman ini, orang mencari rezeki dah banyak yang tidak pikir halal haram, tak sedih hati bila terlambat sholat gara2 asik bekerja/berniaga.

    Mengenai orang yang bertaqwa Allah jamin rezekinya itu jelas janji Allah dalam Al Quran. Taqwa bukan bermaksud hanya wirid zikir saja. TApi taqwa adalah kumpulan segala sifat mahmudah (sifat baik), gabungan antara iman, islam dan ihsan.

    Lebih lanjut mengenai taqwa Bapak bisa mengkaji buku Abuya di sini:
    http://kawansejati.ee.itb.ac.id/buku-taqwa

    artikel di sini juga bagus: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/syarat-syarat-usaha-umum-jadi-ibadah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s