Sedangkan Kepada Firaun pun Musa a.s Berbicara Lembut

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Thaha: 43-44)

Kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa serta direnungi dalam-dalam, kurang dzalim apa sih sebenarnya Firaun itu? Sepertinya, Firaun adalah sosok ideal seorang yang luar biasa dzalim. Namun, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, memerintahkan Nabi Musa a.s dan Nabi Harun a.s untuk memberi nasehat dengan kata-kata yang lemah lembut.

Sekarang kita pikir-pikir, kita rasa-rasa, serta kita renungi dalam-dalam, sedzalim apakah ayah ibu kita, istri kita, anak kita, tetangga kita, walikota kita, gubernur kita, presiden kita. Jika kita rasakan mereka itu dzalim-pun tak akan melebihi dzalim-nya Firaun.

Lantas, mengapa kita tidak dapat berbicara lemah lembut kepada mereka?

This entry was posted in Akhlak, Makhfud Opinion, Nasehat and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Sedangkan Kepada Firaun pun Musa a.s Berbicara Lembut

  1. Rozy says:

    Sungguh berbahagia orang-orang yg tidak merasa hina ketika dihinakan dan tidak merasa tinggi ketika disanjung dan dipuji…

  2. Dono says:

    Ass.wr.wb,
    jangan kita serahkan semua masalah kepada Allah S.W.T , kita dijadikan sempurna jadi bersikaplah yang sempurna.

    Wassalam,Dono.

    #
    manusia = insan = pelupa =TIDAK SEMPURNA. Yang Maha Sempurna hanyalah Allah SWT. Yang memiliki cacat artinya itu bukan Tuhan.

    KArena manusia tidak sempurna, dan banyak memiliki masalah maka manusia perlu merujuk dan bergantung kepada YANG MAHA SEMPURNA yaitu ALLAH SWT.

    La haula wala quwwata illabillah = Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah, apakah tuan Dono mau menafikan hal ini?

  3. aboutmiracle says:

    hamba yang merasa hamba di hadapan Allah tidak akan terhina..justru itulah kemuliaanya sebagai sebagai seorang hamba..

  4. Dono says:

    Ass,wr.wb,pak webmaster.
    Adam a.s adalah sempurna pada kejadiannya tetapi lemah imanya, itu yg saya maksudkan pak webmaster, kalau salah tolong koreksi lagi.
    Iman saya juga kurang mantep.
    Wassalam, Dono.

    # Dalam rukun iman, disebutkan bahwa kita wajib mengimani NABI DAN RASUL UTUSAN TUHAN.
    Termasuk dalam mengimani Nabi dan RAsul ini adalah kita YAKIN bahwa Rasul itu memiliki SIFAT MAKSUM.

    MAKSUM bermakna terpelihara daripada dosa dan terkawal daripada kesalahan dan kesilapan baik dosa besar maupun dosa kecil sekalipun perkara makruh, lahir atau batin serta terjamin terpelihara hingga ke akhir hayatnya.

    Coba bayangkan kalau RASUL UTUSAN TUHAN itu buat dosa, durhaka kepada Tuhan, khianat kepada Tuhan, manusia tentu bingung. Itulah hikmah Tuhan jaga para UTUSANNYA dari sembarang dosa dan kesalahan.

    Na’udzubillah mindzalik kita mengatakan NABI-NABI dan RASUL-RASUL membuat kesalahan. Kalau kita tidak yakin dg sifat MAKSUM bagi NABI DAN RASUL sama artinya kita sudah tidak meyakini rukun iman lagi.

  5. waskita says:

    Kita sebagai manusia biasa memang tidak maksum (bebas dosa), namun tetap kita usahakan semaksimal mungkin untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya.

    Segala sesuatu terjadi dengan kekuatan Allah, namun kita manusia wajib berikhtiar habis-habisan.

  6. dony says:

    amiin……………….smoga ALLAH memebri ampunan kepada kita semua……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s