Kenaikan BBM, Masalah yang Bukan Masalah

Semua orang ribut-ribut begitu mendengar Pemerintah berencana menaikkan harga BBM. “Nanti orang tambah susah, nanti makin banyak orang miskin”, begitu kata mereka yang menolak. “Pemerintah bohong soal subsidi”, imbuh mereka yang menolak. “Pemerintah sewenang-wenang, tidak peduli dg nasib wong cilik”, tuduh mereka yang menolak.

Saya tidak bermaksud membela pemerintah dengan rencananya ataupun mau mendukung mereka yang bersuara menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM.Saya hanya heran, mengapa orang mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah.

Sebetulnya kita perlu kembali kepada pertanyaan yang mendasar berikut:

apakah kemiskinan itu satu masalah?

apakah kesusahan itu masalah?

lebih mendasar lagi adalah pertanyaan: apa sih masalah itu?

Seperti kita pahami, apabila kita tidak menyukai suatu hal maka kita mnyebut hal itu sebagai suatu masalah.

Karena kita tidak suka miskin, maka kita sebut miskin itu sebagai satu masalah. Karena kita tidak suka kepada sakit maka sakit itu kita sebut sebagai masalah. Karena kita tidak suka sama bos yang menyebalkan dan suka marah-marah maka kita sebut bos itu sebagai masalah.

Apakah seperti itu?

Coba kita suluh persoalan-persoalan di atas dengan menggunakan panduan agama kita, yaitu Islam.

Dalam panduan agama, miskin itu bukan satu masalah.

Kemiskinan sama sekali bukan satu masalah. Zakat orang kaya tidak ada artinya bila tidak ada orang miskin. Dalam hadis-hadisnya RAsulullah SAW pun sering menghibur orang miskin bahwa hisab mereka lebih ringan dibandingkan dengna orang kaya. Bahkan RAsulullah SAW berdoa agar dijadikan orang miskin dan di akhirat berkumpul bersama orang miskin.

Dalam panduan agama, sakit juga bukan masalah. Sabda Rasulullah, sakit itu adalah penghapusan dosa atau peningkatan derajat bagi mereka yang sabar menerimanya.

Susah, ini juga bukan masalah. Orang yang mengalami kesusahan dan dia sabar dan redho maka ada pahala besar baginya di sisi Tuhan.

Jadi, kita dapati bahwa sebenarnya kemiskinan itu bukan satu masalah.

Miskin, susah, sakit itu akan jadi masalah bila tidak ada iman di hatinya. Dengan kemiskinan, kesusahan dan sakitnya itu dia akan jadi berkeluh kesah, tidak sabar bahkan sanggup mencuri. Itu baru jadi masalah.

MIskin, susah, sakit sama sekali bukan masalah bagi mereka yang beriman. Karena keimanan mereka maka mereka sabar dan redho dengan kemiskinan mereka itu.

Jadi kaya pun sebetulnya akan jadi masalah bila tiada iman di hatinya. Tanpa iman, maka dengan kekayaan itu dia akan jadi sombong, kikir, bakhil. Sedangkan apabila orang beriman kaya maka dia akan jadi pemurah, merendah hati, suka menolong orang.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi akar permasalahan adalah tipisnya iman kepada Allah.

Karena iman yang tipis tadi, maka si penguasa sanggup zalim kepada rakyatnya. Penguasa sanggup sewenang-sewang kepada rakyatnya. penguasa sanggup bermewah-mewah di atas penderitaan rakyatnya.

Karena iman yang tipis, maka si Kaya jadi bakhil, tidak mau menolong mereka yang miskin.

karena iman yang tipis, maka si miskin tidak sabar dan tidak redho. Mereka justru membuat masalah dengna kemiskinan mereka.

Sebetulnya sudah nampak terang bahwa yang jadi masalah adalah tipisnya iman kepada Allah.

Mengapa iman tipis?

karena umat di akhir zaman ini sudah tidak lagi mengenal Allah. Karena tidak kenal itulah Allah sudah tidak dirasakan lagi peranannya. Tak lagi dirasakan bahwa Allah itu maha Kaya. Sehingga dengan ujian kemiskinan yang Allah timpakan maka mereka jadi hilang pertimbangan dan mengeluh kesana kemari. Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang tidak lagi dirasakan perannnya, sehingga orang yang kaya tidak lagi merasa mengasihi dan menyayangi orang-orang miskin.

Itulah sejatinya masalah besar yang sedang kita hadapi saat ini. BUkan kemiskinan, kenaikan BBM, tapi kita sudah tidak lagi mengenal Allah. Karena itulah kita memerlukan seorang ulama yang bekerja seperti Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul dahulu bekerja, yaitu menyelamatkan tauhid umat. Ulama yang mampu mengenalkan Allah kepada umat. Seorang penyelamat di akhir zaman.

This entry was posted in Makhfud Opinion, Peristiwa Akhir Zaman, Tauhid and tagged , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Kenaikan BBM, Masalah yang Bukan Masalah

  1. mas_adhi says:

    oks banget pak…sepakat saya…
    masalahnya adalah..
    gimna membuat kemiskinan bukan menjadi sebuah masalah..
    ijin diposting tulisannya di tmpat saya…

  2. iya y! baru sadar juga awa’

    btw, nie Mahpud yg mana y?

  3. Makhfud says:

    # buat mas_adhi:

    bagaimana membuat kemiskinan bukan menjadi sebuah masalah?

    begini mas_adhi, coba kita lihat contoh sejarah ketika sebuah masyarakat itu di didik jawa mereka dg Iman, mereka dikenalkan kepada Tuhan sehingga Tuhan itu dikenali, dicintai dan ditakuti. Ada contoh yang bisa kita ambil pelajaran:

    Di zaman Rasulullah SAW apakah tidak ada orang miskin? Ada mas, banyak! Sampai ada segolongan Sahabar r.a yang dijuluki sebagai ahli sufah. Mereka itu tidurnya di mesjid, miskin bukan main, sampai2 perut mereka itu rata dg lantai bila mereka tidur karena saking kurusnya.

    Dg keimanan mereka yang kuat, apakah mereka mengeluh? sama sekali TIDAK! Mereka justru bahagia dg kemiskinan mereka. Dan yang perlu kita catat, mereka yang miskin papa itu, kalau ada kesempatan sedekah mereka akan sedekah padahal mereka sendiri sangat memerlukan. Itulah mereka yang sangat menghayati firman Allah: cukup Allah bagiku🙂

    # buat Dhimas:
    ini mahput saptadi bin whasid bin juwari bin drono🙂

  4. maone says:

    setuju… makasih bwt mahfud uda ngingetin kita…🙂

  5. maone says:

    tambahan d… kl kita selalu mensyukuri smua pemberian Allah pasti ga bakalan ada yg namanya masalah…🙂

  6. alfaqir says:

    Semoga Allah SWT mengaruniakan keimanan yg senantiasa tumbuh, kesabaran dan rasa berTuhan kepada kita, kesempatan untuk terus mengenal-Nya, mengenal perintah dan larangan-Nya juga mengenal, menyayangi, mencintai, serta meneladani Rasul-Nya, Baginda Rasulullah SAW, sehingga kehidupan kita senantiasa berada dalam keberkahan, keridhoan dan kasih sayang-Nya..insya Allah..amin.

  7. aimedieu says:

    ” kemiskinan bukan suatu masalah ? ”

    bukankah sudah menjadi takdir Tuhan, bahwa manusia diciptakan tak sama ? ada yang cantik, ada yang kurang cantik, ada yang gemuk ada yang kurus. begitu juga dengan adanya miskin dan kaya.
    Tuhan tidak menciptakan suatu kejadian tanpa sebuah hikmah. walau sebutir debu di tepi pantai pun, ada hikmahnya juga..
    yang bisa kita ambil dari hikmah adanya si miskin dan si kaya adalah…
    untuk saling melengkapi dan menolong satu sama lain.
    misalkan kalau semua orang di dunia ini kaya, lantas siapa orang kaya yang sanggup menuai padi di sawah dengan terik panas yang menyengat ? atau siapa orang kaya yang sanggup jadi penyapu jalan dengan debu yang pekat ?
    kemana orang kaya akan mendermakan harta mereka yang banyak ? tak perlu ada pasar, tukang jahit, tukang sampah, karena manusia sudah bisa mengusahakan keperluan hidup mereka dari diri mereka sendiri. tapi rasanya tak mungkin, karena manusia tetap perlu dengan manusia lain. fitrah yang ga bisa diganggu gugat…
    kalau semua orang miskin, siapa yang akan masuk ke sekolah, siapa yang akan menabung di bank, siapa yang akan mendirikan rumah sakit, atau gedung-gedung perkantoran ?semua memerlukan apa yang orang miskin tidak miliki, harta…
    kalau si kaya dapat memberi khidmat kepada si miskin, maka ia dapat pahala, si miskin pula mendoakannya, maka timbullah kasih sayang diantara mereka. yang kaya terbantu dengan menyalirkan harta kepada yang memerlukan, yang miskin terbantu karena keperluannya dicukupi..
    indahnya..bila masyarakat dapat berbuat semua itu atas dasar Tuhan..
    bener ga, mas ?🙂

  8. teguh says:

    wah…. kupasannya benar-benar mantap.
    well, tergantung cara pandang dalam memandang kemiskinan maupun “masalah” yang lain.

    Sebagai pribadi, apalagi sebagai pihak yang mengalami, tentu cara pandang bahwa “kemiskinan bukan masalah” dan “cukuplah Allah bagiku” lah yang harus kita pegang, agar kita tetap kuat menghadapi ujian dunia yang singkat ini.

    Tapi sebagai orang yang mampu, atau berposisi sebagai ulil amri, tentu saja kemiskinan harus dipandang sebagai masalah. Karena itulah di Islam ada zakat, serta perintah untuk kurban, infaq dan sedekah.

    *just my opinion*

  9. Makhfud says:

    # buat mas teguh:
    Bagi ulil amri, nasib semua penduduk Indonesia adalah tanggung jawab dia. Makan minum, tempat tinggal, pendidikan, keamanan, dan yang paling penting adalah iman rakyaknya nanti akan Tuhan tanya.

    KAlau pemimpin itu beriman dan bertaqwa, tentu dia mengemban tanggungjwab itu dg sungguh-sungguh. Bahkan apakah nasib penduduk di ujung Papua sana dia pun memikirkannya.

    Yang paling penting bagi ulil amri adalah memberikan iman kepada rakyatnya. Dg iman, akan selesai semua masalah. Baik yang miskin maupun yang kaya.

    Sekarang berkampanye mau menghapuskan kemiskinan. Bagaimana bisa? Sejak zaman Nabi Adam, yang namanya kemiskinan itu pasti ada. Jadi nggak mungkin dihapuskan. Dg iman sajalah miskin itu tidak akan jadi masalah.

  10. Daud says:

    Assalamualaikum Wr Wb
    Hmm,menarik dan benar juga, apapun keadaan kita,ketauhidan dan keberserahdirian kepada Allah SWT adalah yang nomor satu sehingga hidup dapat dijalani dengan tentram. tapi sebaiknya dilengkapi juga dengan tanggapannya aimedieu dan teguh.
    Tapi menganggap miskin itu masalah itu juga sah2 saja menurut saya asalkan tetap berserahdiri kepada Allah SWT. Klo menganggap miskin itu masalah ya jalannya ikhtiar !!!! Orang miskin klo ga ikhtiar untuk mengubah hidupnya ya bakal tetep miskin🙂
    Tetapi sekali lagi ikhtiar yang qanaah🙂
    Tapi saya masi merasa bahwa tulisan ini walopun isinya baik, hanya sekedar “iklan” saja bagi seorang ulama yang Makhfud ikuti. Kenapa cuma menyebut “seorang ulama” saja yang diperlukan? Kenapa ga menyebut “ulama-ulama” ? Apakah hanya satu ulama saja yang bisa begitu?🙂

  11. Makhfud says:

    #buat Daud:
    Ulama memang ada banyak. Ada yang baik ada yang jahat. NGgak mungkin dong ikutin yang jahat🙂

    Memang banyak ulama yang baik. Tetapi ulama yang pewaris Nabi jumlahnya sedikit. Nah diantara yang sedikit itu ada ulama yang bertaraf Mujaddid.

    Hanya ulama yang bertaraf Mujaddid saja yang mempu memperbaiki kondisi umat. Dan yang terpenting, Ulama Mujaddid ini hanya SATU setiap SERATUS TAHUN SEKALI🙂

  12. fadhli says:

    kalau kemiskinan bukan masalah, kenapa ada kewajiban berzakat dan anjuran bersedekah kepada orang fakir miskin? Kalau kemiskinan bukan masalah kenapa khalifah Umar bin Khaththab merasa berdosa ketika ada rakyat yg kelaparan karena ga sanggup beli makanan?

    Kemiskinan adalah sebuah subjek atas ketidakmampuan, terhadap makanan dan kebutuhan primer lain. Dan sedemikian diperhatikannya kemiskinan, orang yg mencuri karena tidak lapar dan tidak mampu membelinya tidak dihukumpotong tangan sebagaimana yg dikatakan Rasulullah :
    La qatha fi majaah mudhthar. (Tidak ada potong tangan pada
    masa kelaparan yang memaksa)

    dan terakhir, bukankah Allah mengatakan orang yg tidak memperhatikan makanan orang miskin digolongkan kepada orang yang mendustakan agama? (QS. 107 : 1-3)

    Lagi pula ini bukan sekedar ttg kemiskinan, ini juga tentang aturan Islam yg berkenaan dengan pengaturan sumber energi. Belum sampaikah kepahaman dalam diri anda bahwa pengelolaan Sumber daya energi saat ini berlawanan dengan aturan Islam? Bukankah saat ini sebagian dari sumber energi kita diserahkan bulat-bulat kepada operator asing dan kufur seperti Shell, ExxonMobile, Chevron, BP dsb? Apakah ini bukan masalah menurut anda? Bukankah Rasulullah menetapkan bahwa sumber energi adalah bagian dari milik ummat? sebagaimana yg beliau sabdakan: Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang gembalaan, dan api (sumber energi).” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

    Bagaimana menurut anda?

  13. aimedieu says:

    Nah,ulama bertaraf Mujaddid itulah yang hanya padanya Allah berikan solusi untuk setiap permasalahan di zamannya. Kenapa cuma dia?bukannya semua ulama pny solusi? Ya,karena hanya ulama Mujaddid itulah orang yang dilantik oleh Allah untuk menghadapi masyarakat di zamannya, dengan ilmu ilham yang Tuhan anugrahkan padanya. Kenapa ga smua ulama?hehe..uraiannya panjang lagi. Mungkin si pemilik blog ada jawabannya🙂

  14. waskita says:

    Untuk menyelesaikan masalah global hari ini, kita perlu ulama luar biasa, bukan ulama biasa. Ulama biasa jumlahnya relatif banyak, namun ilmu yang mereka miliki terbatas, biasanya ilmu mereka lebih ke arah perbaikan diri, dan perbaikan lingkungan sekitar yang relatif kecil.

    Untuk mengubah umat yang jumlahnya sudah milyaran seperti hari ini, perlu ulama spesial yang sanggup memimpin. Di hadis ada disebut beberapa ulama yang lebih khusus.

    Kalau dirujuk ke hadis, ada sekelompok ulama yang disebut sebagai mujaddid, yang hanya ada tiap awal kurun. Uraian lebih lanjut di http://waskita.wordpress.com/2008/04/26/pemimpin-yang-ditunjuk-melalui-wahyu/

  15. Makhfud says:

    # BUat Pak Fadhli:

    Dalam sudut pandang Islam, kemiskinan terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu :

    1. Miskin Iman,
    2. Miskin Ilmu dan
    3. Miskin Harta.

    Diantara 3 kemiskinan ini yang paling berbahaya adalah miskin IMAN, yang kedua miskin ILMU dan yang ketiga adalah miskin HARTA.

    Nah, sekarang ini yang di-highlight-kan hanya kemiskinan harta. Karena kenaikan BBM maka kemiskinan harta akan menjadi semakin banyak.

    Sebetulnya, yang menjadi akar permasalahan global saat ini bukan masalah miskin harta tetapi miskin iman dan miskin ilmu. Orang yang ada iman dan ilmu, walaupun miskin dia tidak akan meminta-minta dan meresahkan masyarakat. Hal ini sudah terbkti dalam sejarah kehidupan Sahabat r.a.

    Lihat profil Abu Hurairah. Beliau ini termasuk Ahli Sufah, segolongan Sahabat yang saking miskinnya hingga kalau tidur di lantai perut mereka rata dengan lantai. Tapi apakah kita dengar ada hadis yang meriwayatkan Abu HUrairah mengeluh kepada Rasulullah?

    kalau melihat profil Sahabat Rasulullah yang lain, kebanyakan mereka miskin. Sedikit saja yang kaya. Tetapi karena iman yang kuat dan ilmu yang cukup (hasil didikan Rasulullah) maka mereka redho dengan kemiskinan itu. Walaupun miskin mereka tetap berjuang, mereka tetap berdakwah hingga Islam dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

    Coba baca juga Hadis ketika perang Khandak. Saking kelaparannya karena menggali parit, ada Sahabat yang mengadu kepada Rasulullah. Ya Rasulullah, tolong berdoalah kepada Tuhan agar menurunkan makanan. Sambil menunjukkan perutnya diikat batu. Kemudian Rasulullah mengangkat bajunya dan terlihat batu yang diikat di perut RAsulullah lebih banyak. Sahabat itu pun malu dan meneruskan bekerja.

    Sekarang coba kita pendang dari sudut ORANG KAYA HARTA tapi MISKIN IMAN. Maka dia akan mengabaikan perintah Allah untuk membantu orang miskin.

    kalau orang kaya dan dia juga KAYA IMAN, maka dia akan korbankan hartanya untuk membela mereka yang miskin.

    Kalau orang yang berkuasa MISKIN IMAN, maka dia akan zalim kepada rakyatnya.

    Kalau orang yang berkuasa dia KAYA IMAN, seprti cerita SAyidina Umar bin Khatab, maka dia akan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Dia akan merasa berdosa apabila ada rakyatnya yang kelaparan.

    kesimpulanya,
    miskin harta memang akan jadi masalah bila dia miskin iman.

    Tetapi kalau miskin harta tetapi KAYA IMAN, tidak akan jadi masalah.

    Jadi kenapa tidak memperjuangkan agar masyarakat Global bisa KAYA IMAN? Dengan sendirinya masalah kemiskinan harta akan selesai dengan sendirinya.

    Karena dengan kaya Iman maka yang kaya harta akan pemurah dan yang berkuasa akan berlaku adil🙂

  16. titov says:

    betoel sekali..!
    pernah denger perumpamaan, bahwa apa yang menimpa kita hanyalah 10% saja merupakan kondisi itu sendiri…sisanya 90% adalah cara pandang kita terhadap kondisi tsb.

    miskin, sakit, susah itu 90% adalah cara pandang kita terhadap kondisi2 tsb. kalok kita coba memandangnya sebage hikmah, maka miskin akan menjadi peringan hisab, sakit akan menjadi peluwang peningkatan derajat, dan susah akan menjadi pahala…dengan ridho kepada-Nya🙂

    nice article fud, salam seko wisnu, wingi bar mudik bareng pas kebetulan dines neng jakarta, sakiki dheweke tugas neng BSD.

  17. Bila ingin berbagi, baik berupa Wakaf, Zakat, Infaq, dan Shodaqoh dapat disalurkan melalui Yayasan Global Ikhwan.

    BCA a/n Yayasan Global Ikhwan no rekening: 5035500313

    http://globalikhwan.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s