Jalan Keluar dari Kehinaan (2)

Seperti yang dijelaskan dalam tulisan sebelum ini, formula dari Allah agar umat Islam dapat keluar dari kehinaan adalah dengan menghubungkan diri dengan Allah (habluminallah) dan menghubungkan diri dengan manusia (habluminannas).

Persoalan yang timbul adalah:

Bagaimana caranya supaya dapat menghubungkan diri dengan Allah (habluminallah) sampai peringkat orang yang bertaqwa (24 jam tidak lalai dari Allah)?

Bagaimana pula menghubungkan diri dengan manusia (habluminnas) dalam jamaah yang mampu melahirkan sistem hidup Islam?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat melihat kepada kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Para sahabat dapat menghubungkan diri sampai menjadi orang yang bertaqwa berkat Rasulullah SAW. Mereka dipimpin oleh Rasulullah untuk dapat mengamalkan segala tuntutan Al Quran.

Para Sahabat dapat bersatu dalam satu jamaah di bawah pimpinan Rasulullah SAW. Di bawah pimpinan Rasulullah SAW (yang mana Baginda SAW mendapat pimpinan langsung dari Allah dengan mendapat wahyu), para Sahabat dapat melahirkan sistem hidup Islam dalam jamaah.

Indahnya kehidupan mereka. Cantiknya gaya hidup Islam begitu nampak dalam kehidupan mereka. Dalam bidang ekonomi, kebudayaan, pendidikan, dan lain2 mereka mampu melahirkan sistem hidup Islam yang bersih, bebas dari penindasan dan penzaliman. Karena keindahan yang begitu menawan, berbondong-bondong manusia masuk Islam. Dalam waktu yang singkat (di zaman khalifah Sayidina Usman), ¾ dunia tunduk dibawah pemerintahan Islam.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa cara praktis agar habluminallah dapat sampai kepada peringkat taqwa dan habluminannas dapat melahirkan jamaah yang lengkap dengan sistem hidup Islam adalah PEMIMPIN. Fakta ini tidak dapat ditolak dan di nafikan.

Hal ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al Quran:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada pemimpin dari kalangan kamu.” (An Nisa: 59)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan hendaklah kamu berserta golongan yang benar (siddiqin).” (At Taubah: 119)

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin jilid 3, menegaskan betapa pentingnya mencari pemimpin yang memandu kepada Tuhan (MURSYID):

Seorang murid memerlukan seorang syeikh yang dapat diikutinya, agar syeikh menunjukkan arah jalan yang benar. Sesungguhnya jalan agama itu adalah samar dan jalan syaitan terlalu banyak dan mudah. Siapa yang tidak ada syeikh yang memimpinnya maka syaitanlah yang memimpinnya. Siapa yang berjalan di lembah-lembah yang bahaya tanpa orang menjaga keselamatannya sesungguhnya dia telah membahayakan dan membinasakan dirinya. Orang yang bersendiri (tanpa syeikh) adalah seperti pohon yang tumbuh sendiri dan mudah mati; jika pohon itu terus hidup ia takkan berbuah. Orang yang mengawasi seorang murid ialah syeikhnya. Maka hendaklah murid itu berpegang teguh terhadap syeikhnya itu.”

Sehubungan dengan perkataan Imam Ghazali tersebut, Allah berfirman:

“Siapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu tidak akan dapati padanya seorang pemimpin

yang memberi petunjuk padanya.” (Al Kahfi: 17)

Imam Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatih al Ghayib berkata:

“Dalam Al Fatehah bila disebut: ‘Tunjukkan kami jalan yang lurus’, tidak memadai dengan itu saja, Allah menyambung, ‘yaitu jalan orang-orang yang Engkau bagi nikmat ke atas mereka (golongan rasul-rasul, nabi-nabi dan para siddiqin)’. Artinya seseorang itu memerlukan pemimpin yang memandunya ke arah jalan yang benar dan menjauhkannya dari jatuh ke lembah kesalahan dan kesesatan.

Imam Fakhrurrazi menggunakan kaedah usul fiqhnya di dalam ayat ini yaitu:

“Tidak sempurna yang wajib itu melainkan dengan kewujudannya maka perkara itu juga wajib.”

Di dalam menguraikan Al Fatehah, Imam Fakhrurrazi mengatakan hukum untuk mendapatkan jalan yang lurus, yakni jalan kebenaran dari Tuhan, adalah wajib. Jalan kebenaran ini tidak akan sempurna kita kecapi dan miliki melainkan dengan sesuatu yang akan menyampaikan kita kepadanya. Artinya, mendapatkan pemimpin kebenaran itu hukumnya adalah wajib juga agar kita berada di jalan yang lurus dan benar.

Allah berfirman:

Maksudnya: “Bolehkah aku mengikuti tuan supaya tuan dapat mengajarkan aku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang diajarkan-Nya kepada tuan.” (Al Kahfi: 66)

Kata-kata Nabi Musa a.s. kepada Nabi Khidir a.s. di dalam ayat di atas menegaskan kembali mengenai pentingnya mencari pemimpin kebenaran di taraf apapun kita berada. Syeikh Abdul Wahab Asy Syaarani mengulas dengan berkata bahwa Imam Ahmad Hanbal meminta pimpinan Abu Hamzah Al Baghdadi. Imam Ahmad Suraij meminta pimpinan Abu Qasim Al Junaid. Imam Al Ghazali yang kedudukannya adalah Hujjatul Islam juga mencari pimpinan. Syeikh Izzudin Abdul Salam yang digelari sultanul ulama di waktunya juga meminta pimpinan Syeikh Abu Hassan Asy Syazili. Begitu sekali keadaannya para nabi, para ulama muktabar dan para kekasih Allah mewajibkan diri mereka mencari mursyid dan pemimpin kebenaran untuk mendapatkan keselamatan hidup di dunia dan di Akhirat.

Jadi, mana mungkin kita orang awam di akhir zaman yang sudah jauh dari Rasulullah merasa sudah cukup belajar sendiri melalui kitab-kitab dan buku-buku agama? Apakah hijab hati kita dapat dibuka dan selamat menuju Allah tanpa pimpinan mursyid dan pemimpin kebenaran? Tentu tidak. Karena itulah kita wajib mencari pemimpin yang mampu membawa kita mencapai taraf taqwa (mursyid).

Di setiap awal kurun, Allah mengutus seorang yang amat bertaqwa untuk memimpin umat Islam agar dapat menjadi orang yang bertaqwa. Dari Abu Hurairah r.a. katanya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus pada umat ini di setiap awal 100 tahun seorang (mujaddid) yang akan memperbaharui urusan agama mereka.” (Riwayat Abu Daud). Sebenarnya, kita amat beruntung karena di akhir zaman ini Tuhan utus mujaddid yang bukan sembarang Mujaddid. Mujaddid di kurun ini merupakan Putera Bani Tamim, orang kanan Imamul Mahdi.

This entry was posted in Peristiwa Akhir Zaman, Perjuangan and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Jalan Keluar dari Kehinaan (2)

  1. Abdul Qodir Jaelani says:

    Wah, sangat benar juga tuh tentang masalah mursyid. Mas, jika saya boleh nanya bagaimana sih cara seseorang menjadikan orang lain sebagai mursyidnya?? Apakah dengan sering talaqqi muwajjahah sesering mungkin?? Atau dengan membaca karya-karyanya??

  2. Makhfud says:

    Cara menjadikan seorang itu mursyidnya:

    1. Orang yang mau dijadikan mursyid itu adalah BENAR-BENAR MURSYID🙂
    2. Kita bisa datang langsung kepada beliau atau melalui wakilnya (khalifah-khalifahnya) kemudian kita minta pimpinan dari beliau.

    CAranya gitu saja, mas.

    NAh, setelah kita ketemu mursyid maka secara teknis mursyid akan membimbing kita untuk mengikis sifat jahat (mazmumah) dan menyuburkan sifat baik (mahmudah) dalam diri kita.

    Mengenai teknis bimbingannya, masing masing mursyid memiliki kaedah sendiri (tapi tetap dalam koridor Al Quran dan Sunnah).

    Lebih lengkapnya bisa ngobrol sama pak Waskita🙂

  3. fauzansigma says:

    syukron untuk pencerahanya

  4. Pingback: Mencari Pemimpin Pilihan Tuhan di Akhir Zaman (2) « MENEMPA SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM AKHIR ZAMAN

  5. elfaruq says:

    “Jadi, mana mungkin kita orang awam di akhir zaman yang sudah jauh dari Rasulullah merasa sudah cukup belajar sendiri melalui kitab-kitab dan buku-buku agama?”

    setuju setuju… *ngangguk2…
    🙂

    Jazakallahu khoiron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s