Kemacetan Jakarta adalah Hukuman Tuhan Akibat Dosa-dosa Penduduknya???

Mungkin sudah banyak kajian dan analisis yang membahas mengenai betapa macetnya Jakarta. Sudah berpuluh atau malah beratus solusi dikemukakan untuk mengurai masalah kemacetan di Jakarta.

Sumber Foto: link

Sebagai orang hari-hari menghabiskan waktu 3 sampai 6 jam berada diatas angkuta membuat saya merenung dan berpikir, “memaki2 Bung Foke, para pejabat dan SBY sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah”. Menuntut mereka menyediakan transportasi umum yang manusiawi rasanya percuma.

Dalam merenung, tiba2 ada seorang kawan berbagi link sebuah hasil survey yang menggambarkan betapa tidak bahagianya pengguna jalan di jakarta.

Ini dia link-nya:

http://id.berita.yahoo.com/pengguna-jalan-di-jakarta-paling-tak-bahagia-di-054903466.html

sedikit kutipannya:

Pengguna jalan di Jakarta terbukti sebagai pengguna jalan paling tak bahagia di dunia. Berdasarkan riset Journey Experience Index yang dilakukan perusahaan konsultan bisnis Frost & Sullivan, Jakarta merupakan kota dengan indeks terendah dalam kepusasan pengguna jalan.

Kata kunci yang membawa perenungan saya semakin jauh adalah kata: BAHAGIA. Benarkah kepuasan terhadap suatu benda material mempunyai hubungan dengan KEBAHAGIAAN?

Saya langsung teringat dengan bait-bait syair Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi yang disenandungkan dengan apik oleh Qatrunada.

Bahagia itu maknawi ia bersifat rohaniah, rasa senang bukan bahagia…

Jadi mengapa harus rugi dua kali? Sudah-lah badan tersiksa dengan kemacetan, pikiran dan perasaan juga harus tersiksa dengan mengutuk pejabat. Daripada mengutuki mereka lebih baik menghitung-hidung dosa sendiri.

Coba lihat, para pejabat kita kutuk pun mereka tetap akan mendapat jalan yang lancar dengan fasilitas pengawalan khusus pembuka jalan. Sudahlah kena macet tambah dosa pula mengutuki mereka dan kita pun jadi lupa dengan dosa-dosa kita sendiri.

Saya jadi terpikir, jangan-jangan kemacetan dan angkutan yang sub-standar ini (bila dibandingkan dengan standar safety Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java, yang mensyaratkan transportasi harus ada safety belt, rem ABS, dan air bag serta AC tentunya :D) adalah hukuman dari Tuhan karena dosa-dosa yang belum saya taubatkan.

Saya tidak bisa membayangkan untuk menanggung kesusahan dan penderitaan akibat adanya SATU DOSA yang tidak sempat ditaubatkan. Allah….betapa tersiksanya di akhirat nanti.

Saya pun terpikir bahwa tidak ada satu kejadian pun yang menimpa anak Adam yang berlaku tanpa izin Allah. Sebagai hamba Allah sudah barang tentu kita harus redha dengan semua ketentuan dari Allah. Kalau tak redha, apakah kita mampu mencari bumi lain selain bumi Allah ini?

This entry was posted in BBM, Makhfud Opinion, Nasehat, Peristiwa Akhir Zaman, Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s