Kisah Karomah Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib

Dalam kitab Jami Karomatul Auliya, susunan Syeikh an Nabhani, memuat kisah-kisah karomah Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib.

Sayidina Hamzah merupakan paman Nabi Muhammad saw yang syahid ketika perang uhud.

Selamat menyinyak kisahnya….

Kisah I

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Hamzah wafat dalam keadaan junub (belum suci dari hadas), lalu Nabi Muhammad Saw bersabda, “Malaikat telah memandikannya.” (HR Al-Hakim)

Hasan meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hamzah.” (HR Ibnu Sa’ad)

Kisah 2

Fatimah al-Khaza’iyyah bercerita, “Aku menziarahi makam sayidina Hamzah, lalu aku mengucapkan `Assalamu ‘alaika, wahai paman Rasulullah.’ Aku mendengar jawaban `Wa ‘alaikumussalam warahmatullah. ” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari AI Waqidi)

Diriwayatkan bahwa Syaikh Mahmud al-Kurdi al-Syaikhani singgah di Madinah untuk menziarahi makam Sayidina Hamzah r.a. Sewaktu ia mengucapkan salam, terdengar jawaban salam dari makam Sayidina Hamzah dan perintah untuk menamai anaknya dengan nama Hamzah. Kemudian ia memiliki anak, maka ia menamainya dengan Hamzah. Ia juga meriwayatkan bahwa sewaktu ia mengucapkan salam untuk Nabi Muhammad Saw di hadapan pusara beliau, Nabi Muhammad Saw menjawab salamnya. Ia sungguh-sungguh mendengar jawaban salam itunya, tak diragukan sedikit pun. (Dikutip dari kitabAl-Bagiyah al-Shalihat karya Syaikh Mahmud al-Kurdi al-Syaihani)

Syaikh Abdul Ghani al-Nablusi menceritakan dalam uraiannya atas kitab Shalat al-Ghauts al Jailani, bahwa ia pernah bertemu dengan Syaikh Mahmud al-Kurdi di Madinah pada tahun 1205 H. Ia mengundang Syaikh Mahmud ke rumah, menjamu, dan memuliakannya. Syaikh Mahmud menceritakan kepada Syaikh ‘Abdul Ghani bahwa ia sering bertemu dengan Nabi Saw dalam keadaan terjaga dan Abdul Ghani mempercayainya setelah melihat tanda-tanda kejujurannya. Pembahasan tentang bertemu Nabi Saw dalam keadaan terjaga atau tidur sudah cukup saya (Yusuf bin Ismail An-Nabhani) kemukakan dalam kitab Sa`adatal-Darain fs al-Shalah `ala Sayyid al-Kaunaini.

Kisah 3

Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Dimyathi yang terkenal dengan sebutan Ibnu ‘Abdul Ghani al-Bina’, seorang ulama yang mengamalkan ilmu syariah dan tasawuf (wafat di Madinah pada bulan Muharram 116 M.), bercerita, ‘Aku menunaikan ibadah haji bersama ibuku pada masa paceklik. Kami menunggang dua ekor unta yang dibeli di Mesir. Sesudah menunaikan haji, kami pergi ke Madinah, dan kedua unta itu mati di sana, padahal kami sudah tidak punya uang untuk membeli atau menyewa unta dari orang lain. Hal itu membuatku risau, karena itu aku pergi menemui Syaikh Shafiyyuddin al-Qusyasyi. Aku menceritakan keadaanku dan berkata, Aku beri’tikaf di Madinah, tetapi kemudian aku mengalami kesulitan untuk melanjutkan perjalanan, sampai Allah memberi kelapangan.’ Syaikh Shafiyuddin diam sejenak, lalu berkata, `Pergilah sekarang juga ke makam Sayyidina Hamzah bin `Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Saw. Bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang paling mudah dan ceritakan keadaanmu dari awal hingga akhir, seperti yang baru kau ceritakan kepadaku, lakukan itu sambil berdiri di sisi makamnya yang mulia.’

Aku ikuti anjuran Syaikh Shafiyyuddin. Aku segera pergi pada waktu dhuha ke makam Sayyidina Hamzah. Aku membaca ayat-ayat AlQur’an, lalu menceritakan keadaanku seperti yang diperintahkan Syaikh Shafiyuddin. Aku segera kembali sebelum zuhur, lalu memasuki tempat suci Babu Rahmah. Aku berwudhu, lalu masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba ibuku yang berada di dalam masjid berkata kepadaku, Ada seorang laki-laki menanyakanmu, temuilah dia!’ Aku bertanya, ‘Di mana dia?’ Ibu menjawab, `Lihatlah di ujung masjid.’

Aku menemui laki-laki yang mencariku. Sewaktu bertemu, ternyata ia seorang laki-laki berjenggot putih yang tampak disegani. Laki-laki itu menyapa, `Selamat datang Syaikh Ahmad.’ Aku sambut uluran tangannya, lalu ia berkata lagi, ‘Pergilah ke Mesir!’ Jawabku, ‘Tuan, dengan siapa aku pergi?’ Ia menjawab, ‘Pergilah bersamaku, aku akan menyewakan unta untukmu kepada seseorang.’

Aku pergi bersamanya hingga kami sampai di tempat singgah unta-unta jamaah haji asal Mesir di Madinah. Laki-laki berjenggot itu memasuki tenda salah seorang penduduk Mesir dan aku menyusul di belakangnya. Ia menghaturkan salam kepada penghuni tenda, pemilik tenda berdiri dan mencium kedua tangannya dengan sikap sangat hormat. Laki-laki berjenggot itu berkata kepada pemilik tenda, Aku ingin anda membawa Syaikh Ahmad ini dan ibunya ke Mesir.’

Pada tahun itu, unta sangat berharga karena banyak yang mati, dan menyewa unta cukup sulit. Pemilik tenda mengikuti kemauan laki-laki berjenggot itu. Lelaki berjenggot itu bertanya, Berapa Anda akan menarik ongkosnya?’ Pemilik tenda itu menjawab, ‘Terserah Tuan.’ Lelaki berjenggot berkata, ‘Sekian, sekian.’ Mereka berijab kabul dan lelaki berjenggot membayar uang sewa. Laki-laki berjenggot itu lalu berkata kepadaku, `Bangkitlah, pergilah bersama ibumu, dan bawa serta barang-barangmu.’ Aku berdiri, sementara ia duduk di samping pemilik unta, kemudian mendatangi keduanya dan mengadakan perjanjian untuk membayar sisa uang sewa setelah sampai di Mesir. Ia menyetujui perjanjian itu, membaca surah Al-Fatihah, dan memujiku.

Aku berdiri di samping lelaki berjenggot putih itu lalu pergi bersamanya. Ketika sampai di masjid, ia berkata, `Masuklah dulu!’ Aku masuk dan menunggunya ketika waktu shalat tiba, tetapi aku tidak melihatnya. Berulang kali aku mencarinya, tetapi tidak menemukannya.

Lantas aku menemui orang yang menyewakan unta untukku dan bertanya tentang lelaki berjenggot putih itu dan tempat tinggalnya. Ia menjawab, Aku tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya sebelum ini. Tetapi ketika ia masuk ke tempatku, aku merasa segan dan hormat kepadanya, sesuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidup.’

Aku kembali mencari lelaki berjenggot putih itu, tetapi tidak menemukannya. Maka aku pergi menemui Syaikh Shafiyyuddin Ahmad al-Qisyasyi r.a. dan menceritakan hal tersebut. Syaikh Shafiyuddin berkata, ‘Itu ruh Sayyid Hamzah bin Abdul Muthallib r.a. yang mewujud padamu.’

Lalu aku kcmbali rnenemui orang yang menyewakan unta kepadaku. Aku pulang ke Mesir bersamanya sebagai teman haji. Aku melihatnya sebagai seorang yang penyayang, mulia, dan berakhlak baik, belum pernah aku bertemu dengan orang seperti dirinya. Semua itu karena barakah dari Sayyidina Hamzah r.a. hingga kami bisa mengambil manfaat darinya. Segala puji hanya milik Allah atas semua yang terjadi.” (Cerita ini dikutip oleh Sayyid Ja’far bin Hasan al-Barzanji al-Madani dalam kitabnya Jaliyat al-Kurab bi Ashhab al-Ajam wa al-Arabi Sallallahu `alaihi Wasallama, sebuah kitab tentang memohon pertolongan melalui para sahabat yang mengikuti perang Badar dan Uhud, dari Al-Hamwi dalam kitabnya Nataij al-Irtihal wa al-Safar fi Akhbari ithli al-Qarni al-Hadi Asyara)

Kisah 4

Karamah Sayidina Hamzah yang lain adalah kisah yang diceritakan oleh Al-Marhum Abdul Lathif al Tamtami al-Malaki al-Madani berikut ini, “Syaikh Sa’id bin Qutb al-Rabbani al-Mala Ibrahim al-Kurdi pergi untuk menziarahi pemimpin para syahid, Sayidina Hamzah paman Rasulullah Saw, sebelum melakukan ziarah yang telah kami sepakati ke makam para syahid lain di Madinah pada tanggal 12 Rajab. Ia mempercepat perjalanannya ke makam Sayidina Hamzah agar bisa ikut berziarah bersama kami. Pada tanggal 12 Rajab, kami pergi ziarah dengan Syeikh Sa’id bin Qutb yang masih setengah mengantuk. Lalu kami istirahat di sebuah bangku bersandaran. Ketika gelap telah menyelimuti malam, teman-temanku tidur dan aku berjaga-jaga. Tiba-tiba aku melihat seekor kuda mengelilingi tcmpat yang sedang kami pakai beberapa kali, tetapi aku malas bangun untuk mengusirnya. Dalam hati aku berkata, `Sampai kapan ia berputar-putar?’ Aku bangkit, lalu berjalan ke arahnya dan bertanya, ‘Siapa kau?’ Kuda itu menjawab, `Sedang apa kamu? kamu singgah di wilayah perlindunganku dan menyakitiku karena kamu tidak tidur untuk berjaga jaga, padahal aku selalu menjaga kalian semua?-Aku Hamzah bin Abdul Muthalib.’ Kuda itu kemudian menghilang.”

Posted in Karamah | Tagged , | Leave a comment

Kisah Sufi Yahya bin Mu’adz dan Hutangnya

Nama lengkapnya Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz ar-Razi, beliau merupakan murid Ibnu Karram. Beliau lahir di kota Rayy, kemudian pergi bermusafir. Menetap di Balkh untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian ia pindah ke Nishapur, beliau meninggal dunia pada tahun 258 H/871 M di kota Nishapur. Sejumlah syair-syair diperkirakan sebagai basil karyanya.

berikut ini adalah kisah Yahya bin Mu’adz dan Hutangnya

Yahya bin Mu’adz meminjam uang sebanyak seratus ribu dirham kepada seseorang, selanjutnya membaginya kepada orang-orang yang berjihad fi sabilillah,  orang-orang yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, orang-orang miskin, yang menuntut ilmu dan juga kepada para sufi. Tidak lama kemudian, orang-orang yang meminjamkan uang tersebut menagihnya sehingga Yahya menjadi sangat gundah.

Suatu malam ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad saw berkata kepadanya,

“Yahya, janganlah engkau berdukacita, karena aku pun turut bersedih menyaksikan kegundahanmu itu. Bangun dan pergilah menuju Khurasan. Engkau akan bertemu dengan seorang perempuan yang telah menyisihkan tiga ratus ribu dirham untuk melunaskan hutang-hutangmu yang sebanyak seratus ribu dirham itu”.

“Ya Rasulullah“, seru Yahya, “di kota manakah dan siapakah perempuan itu?”

“Berjalanlah dari satu kota ke kota lain dan berkhotbahlah”, jawab Nabi. “Kata-katamu akan mendatangkan kesembuhan jiwa bagi ummat manusia. Seperti halnya aku menemuimu di dalam mimpi, maka akupun hendak menemui perempuan itu di dalam mimpi pula”.

Maka Yahya pun berangkat menuju Nishapur. Di depan kubah Masjid Nishapur dibangunlah mimbar sebagai tempat Yahya ber-khotbah.

“Wahai penduduk Nishapur”, Yahya berseru, “Aku datang kemari karena disuruh Nabi Muhammad saw. Ia katakan kepadaku. ‘Seseorang akan melunasi hutang-hutangmu’. Sesungguhnya aku punya hutang sebanyak seratus ribu dirham. Ketahuilah bahwa kata-kataku selalu mengandung keindahan, tetapi hutang ini telah menutupi keindahan tersebut”.

“Akan kusumbangkan uang sebesar lima puluh ribu dirham”, salah seorang dari hadirin menawarkan bantuan.

“Akan kusumbangkan uang sebesar empat puluh ribu dirham”, yang lainnya menawarkan pula.

Tetapi Yahya menolak sumbangan-sumbangan ini dengan dalih. “Nabi Muhammad saw. hanya mengatakan satu orang”.

Yahya kemudian memulai khotbahnya. Di hari pertama, tujuh mayat terpaksa diusung keluar dari khalayak ramai yang mendengarkan. Kemudian setelah menyadari bahwa hutangnya tidak akan terlunaskan di kota Nishapur, iapun meneruskan perjalanan ke kota Balkh. Di kota ini orang-orang menahan dirinya dan meminta agar ia mau memberikan khotbah. Untuk itu ia mendapatkan sumbangan sebesar seratus ribu dirham. Tetapi seorang syeikh di kota itu tidak senang kepada khotbah-khotbahnya karena mengira bahwa Yahya pecinta kekayaan.

Si Syeikh berkata. “Semoga Allah tidak memberkahinya!”.

Ketika meninggalkan kota Balkh perampok-perampok menghadang Yahya dan merampas semua uang yang dibawanya.

“Itulah akibat dari doa si syeikh”, orang-orang yang mendengar peristiwa perampokan itu berkata sesama mereka.

Yahya meneruskan perjalanannya ke Hirat, beberapa orang meriwayatkan, dengan melalui Merv. Dalam khotbahnya di kota Hirat inipun ia mengisahkan mimpinya itu. Puteri pangeran Hirat kebetulan mendengarkan dan mengirim pesan kepadanya.

“Wahai imam, janganlah engkau berkeluh-kesah lagi karena hutangmu. Pada malam Nabi berbicara kepadamu di dalam mimpi itu, ia telah berbicara pula kepadaku. Aku berkata kepadanya ‘Ya Rasulullah, aku akan pergi mencarinya . ‘Tidak usah, dia akan datang kemari mencarimu’ jawab Nabi. Sejak malam itu aku menanti-nantikanmu. Jika gadis lain hanya memperoleh tembaga dan kuningan maka ketika ayah menikahkan aku, aku memperoleh emas dan perak. Barang-barang perakku berharga tiga ratus ribu dirham. Semuanya akan kuserahkan kepadamu dengan syarat bahwa engkau harus berkhotbah di kota ini empat hari lagi “.

Yahya menyanggupi untuk memperpanjang khotbahnya selama empat hari lagi. Pada hari pertama, sepuluh mayat harus disingkirkan. Hari kedua, dua puluh lima mayat, pada hari ketiga ada empat puluh mayat, dan di hari yang keempat, tujuh puluh mayat. Pada hari yang kelima Yahya meninggalkan kota Hirat dengan membawa barang-barang perak sepenanggungan tujuh ekor unta. Ketika sampai di Balham, puteranya yang menemaninya membawa barang-barang itu berkata di dalam hatinya

“Apabila sampai di kota, semoga ayah tidak menyerahkan semua barang-barang ini dengan begitu saja kepada orang-orang tempat dia berutang dan kepada orang-orang miskin tanpa sedikit pun menyisihkan untuk diriku”.

Di waktu shubuh ketika Yahya menghadap Allah dengan menyentuhkan dahinya ke tanah, tanpa diduga-duga sebuah batu jatuh menimpa kepalanya.

“Berikan uang kepada orang-orang yang berpiutang kepadaku”, serunya, dan kemudian ia menemui ajalnya.

Orang-orang yang mengikut jalan Allah mengusung jenazah Yahya di bahu mereka dan membawanya ke Nishapur untuk dikuburkan di sana.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kisah Sufi Sari As Saqathi

Pagi tadi membaca buku “Tazkiratul Auliya”, yang memuat kisah-kisah tokoh sufi. Cukup menarik kehidupan mereka. Rasa cinta dan takut pada Allah dan rindu kepada Nabi Muhammad saw begitu tebal di hati mereka.

selamat menyimak kisahnya:

***********************************************************

Orang-orang mengatakan bahwa Abul Hasan Sari bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma’ruf al-Karkhi dan paman Junaid. Ia adalah seorang tokoh sufi yang terkemuka di Baghdad dan pernah mendapat tantangan dari Ahmad bin Hambali. Mula-mula ia mencari nafkah dengan berdagang barang-barang bekas dan ia meninggal pada tahun 253 H/867 M dalam usia 98 tahun.

KEHIDUPAN SARI AS-SAQATHI

Sari as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan “peleburan” sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syeikh-syeikh sufi di negeri Iraq adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Ia adalah paman Junaid dan murid Ma’ruf al-Karkhi. Ia juga pernah bertemu dengan Habib ar-Ra’i.

Pada mulanya Sari tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat, digantungkan-nya sebuah tirai di depan pintu tokonya.

Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Sari dan berkata:
“Syeikh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu”.
Sari menyahut: “Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan menghusukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepada-Nya walau sesaat pun”.

Diriwayatkan, di dalam berdagang itu Sari tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen. Pada suatu ketika Sari membeli buah-buahan badam seharga enam puluh dinar. Pada waktu harga buah badam sedang naik, seorang pedagang perantara datang menemui Sari.
“Buah-buah badam ini hendak kujual”, Sari berkata kepadanya. “Berapakah harganya?”, tanya si perantara. “Enam puluh enam dinar”.

“Tetapi harga buah badam pada saat ini sembilan puluh dinar”, si perantara berkeberatan.

“Sudah menjadi peraturan bagi diriku untuk tidak menarik keuntungan lebih dari lima persen “, jawab Sari, “dan aku tidak akan melanggar peraturan sendiri”.

“Dan aku pun tidak merasa pantas untuk menjual barang-barangmu dengan harga kurang dari sembilan puluh dinar”, sahut di pedang perantara.

Akhirnya si perantara tidak jadi menjualkan buah-buahan Sari.

**********************

Pada mulanya Sari menjual barang-barang bekas. Pada suatu hari pasar kota Baghdad terbakar.
“Pasar terbakar!”, orang-orang berteriak.
Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Sari: “Bebaslah aku sudah!”
Setelah api reda ternyata toko Sari tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan ini Sari menyerahkan segala harta benda-nya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia mengambil jalan kesufian.

*************

“Apakah yang menyebabkan engkau menjalani kehidupan spiritual ini”, seseorang bertanya kepada Sari. Sari menjawab:

“Pada suatu hari Habib ar-Ra’i lewat di depan tokoku. Kepadanya kuberikan sesuatu untuk disampaikan kepada orang-orang miskin. ‘Semoga Allah memberkahi engkau’, Habib ar-Ra’i mendoa-kan diriku. Setelah ia mengucapkan doa itu dunia ini tidak menarik hatiku lagi”.

“Keesokan harinya datanglah Ma’ruf Karkhi beserta seorang anak yatim. ‘Berikanlah pakaian untuk anak ini’, pinta Ma’ruf kepadaku. Maka anak itu pun kuberi pakaian. Kemudian Ma’ruf berkata: ‘Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini’. Karena kemakbulan doa Ma’ruf itulah aku dapat meninggalkan semua harta kekayaanku di dunia ini”.

SARI DAN SEORANG ANGGOTA ISTANA

Pada suatu hari ketika Sari sedang memberikan ceramah. Salah seorang di antara sahabat-sahabat intim khalifah, Ahmad Yazid si Jurutulis lewat dengan pakaian kebesaran yang megah diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya.

“Tunggulah sebentar, aku hendak mendengarkan kata-katanya”, kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak perlu kita datangi”. Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Sari.

Sari berkata: “Di antara kedelapan belas ribu dunia itu tidak ada yang lebih lama daripada manusia, dan di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah daripada manusia. Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaekat-malaekat sendiri iri kepadanya. Jika ia jahat maka ia terlampau jahat sehingga syaithan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa!”

Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikkan Sari ke jantung Ahmad. Ahmad menangis dengan sedihnya [sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah sadar] ia masih menangis Ahmad bangkit dan pulang ke rumahnya. Malam itu sak sesuatu pun yang dimakannya dan tak sepatah kata pun yang diucapkannya.

Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula ke tempat Sari berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai ia pun pulang. Di hari yang ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika ceramah selesai ia menghampiri Sari.

“Guru”, ucap Ahmad kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang ditempuh para khalifah”.

“Jalan manakah yang engkau inginkan”, tanya Sari. “Jalan para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan?”

“Tunjukkanlah kedua jalan itu kepadaku”, Yazid meminta kepada Sari; Maka berkatalah Sari:

“Inilah jalan yang ditempuh orang banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari di belakang seorang imam, dan keluarkanlah zakat ”jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap dua puluh dinar yang engkau miliki. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau terperosok ke dalam perangkap-perangkap-nya. Jika kepadamu hendak diberikan sesuatu, janganlah terima. Demikianlah kedua jalan tersebut”.

Yazid meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara. Beberapa hari kemudian seorang perempuan tua yang berambut kusut dengan bekas-bekas luka di pipinya datang menghadap Sari dan berkata:

“Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih remaja dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa hari ini ia tidak pulang dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari dia. Tolong, lakukanlah sesuatu untuk diriku”.
Permohonan wanita tua itu menggugah hati Sari. Maka berkatalah ia: “Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia kembali, niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya”.

Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu malam, Ahmad kembali kepada Sari. Sari memerintahkan kepada pelayannya, “Kabarkanlah kepada ibunya”. Kemudian ia memandang Ahmad. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan badannya yang jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah bungkuk.

“Wahai guru yang budiman”, Ahmad berkata kepada Sari, “karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamaian dan telah mengeluarkan aku dari kegelapan, aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan menganugerahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan di akhirat”.

Mereka sedang asyik berbincang-bincang ketika ibu dan isteri Ahmad masuk. Mereka juga membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si ibu melihat Ahmad yang sudah berubah sekali keadaannya ia pun menubruk dada Ahmad. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Sari sendiri pun tidak dapat menahan air matanya. Si anak merebahkan diri ke haribaan ayahnya. Tetapi betapa pun juga mereka membujuk, Ahmad tidak mau pulang ke rumah.

“Wahai Imam kaum Muslimin”, Ahmad berseru kepada Sari, ”mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada mereka? Mereka inilah yang akan meruntuhkan diriku”.

Sari menjawab: “Ibumu terus menerus bermohon sehingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila engkau datang”.

Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir isterinya meratap: “Belum lagi mati, engkau telah membuatku jadi janda dan puteramu jadi yatim. Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan kulakukan? Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu”.

“Baiklah”, jawab Ahmad.

Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anaknya itu:

“Sekarang, pergilah engkau seorang diri”

Melihat hai ini si isteri menjerit: “Aku tidak sampai hati membiarkannya”, dan anak itu ditariknya ke dalam dekapannya.

“Aku memberikan kuasa kepadamu”, kata Ahmad kepada isterinya, “jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian”.

Maka kembalilah Ahmad ke padang belantara. Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam, pada waktu shalat Isa, seseorang mendatangi Sari di tempat kediamannya. Orang itu berkata kepada Sari:

“Ahmad mengutus aku untuk menjumpai engkau. Ia berpesan: ‘Hidupku hampir berakhir. Tolonglah aku”.

Sari pergi ke tempat Ahmad. Ia menemukan Ahmad yang sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak. Sari mendengar bahwa Ahmad sedang membacakan ayat yang ber-bunyi: “Untuk yang seperti ini bekerjalah wahai para pekerja”. Sari mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan dan mendekapkan ke dadanya. Ahmad membuka matanya, terlihatlah oleh-nya sang syeikh, dan berkatalah ia:

“Guru, engkau datang tepat pada waktunya. Hidupku akan berakhir sesaat lagi”.

Sesaat kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Sambil menangis Sari kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan-urusan Ahmad. Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan ke arah luar kota.

“Hendak ke manakah kalian?” Sari bertanya kepada mereka,

“Tidak tahukah engkau?”,jawab mereka. “Kemarin malam terdengar sebuah seruan dari atas langit: ‘Barangsiapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!’ “.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI SARI

Junaid meriwayatkan sebagai berikut ini.

Pada suatu hari aku mengunjungi Sari dan kutemui ia sedang mencucurkan air mata. Aku bertanya kepadanya. “Apakah yang telah terjadi?”

Sari menjawab: “Aku telah berniat bahwa malam ini aku hendak menggantungkan sekendi air untuk didinginkan. Di dalam mimpi aku bertemu dengan seorang bidadari. Aku bertanya, siapakah yang memilikinya dan ia menjawab: ‘Aku adalah milik seseorang yang tidak mendinginkan air dengan menggantungkan kendi’. Setelah itu si bidadari menghempaskan kendiku ke atas tanah. Saksikanlah olehmu sendiri!”

Kulihat pecah an-pecahan kendi yang berserakan di atas tanah. Pecahan-pecahan itu dibiarkan saja di situ untuk waktu yang lama.

**************************************************

Dalam kisah lain Junaid meriwayatkan. “Pada suatu malam aku tertidur nyenyak. Ketika aku terjaga, batinku mendesak agar aku pergi ke Masjid Syuniziyah. Maka pergilah aku. Tetapi di depan masjid itu terlihatlah olehku seseorang yang berwajah sangat menakutkan. Aku menjadi gentar. Orang itu menegurku:

“Junaid, takutkah engkau kepadaku?”

“Ya”, jawabku.

“Seandainya engkau mengenai Allah sebagaimana yang seharus-nya, niscaya tak ada sesuatu pun yang engkau takutkan selain dari pada Dia”.

“Siapakah engkau?”, aku bertanya.

“Iblis”, jawabnya.

“Aku pernah ingin bertemu dengan engkau”, aku berkata kepadanya.

“Begitu engkau berpikir tentang aku, tanpa engkau sadari, engkau lupa kepada Allah, Apakah maumu untuk bertemu dengan aku?” tanya si Iblis.

“Ingin kutanyakan kepadamu, apakah engkau dapat memperdayakan orang-orang miskin?”

“Tidak”, jawab si Iblis.

“Mengapakah demikian?”

Si Iblis menjawab: “Apabila aku hendak menjerat mereka dengan harta kekayaan dunia, mereka lari ke akhirat. Apabila aku hendak menjerat mereka dengan akhirat, mereka lari kepada Allah, dan di situ aku tidak dapat mengejar mereka lagi”.

“Dapatkah engkau melihat manusia-manusia yang tak dapat engkau perdayakan?”

“Ya, aku melihat mereka”, jawab si Iblis, “dan apabila mereka berada di dalam keadaan ekstase, dapatlah kulihat sumber keluh-kesah mereka itu”.

Setelah berkata demikian, si iblis menghilang. Aku masuk ke dalam masjid dan di sana kudapati Sari yang sedang menekurkan kepala ke atas kedua lututnya.

“Dia telah berdusta, seteru Allah itu”, Sari berkata sambil mengangkat kepalanya. “Manusia-manusia seperti itu terlampau disayangi Allah untuk diperlihatkan kepada Iblis”.

************************************************

Sari mempunyai seorang saudara perempuan yang pernah meminta izin untuk menyapu kamarnya namun ditolaknya.

“Hidupku tidak patut diperlakukan seperti itu”, Sari berkata kepada saudara perempuannya itu.

Pada suatu hari ia memasuki kamar Sari dan terlihatlah olehnya seorang wanita tua sedang menyapu.

“Sari, dulu engkau tidak mengizinkan aku untuk mengurus dirimu, tetapi sekarang engkau membawa seseorang yang bukan sanak familimu”.

Sari menjawab: “Janganlah engkau salah sangka. Dia adalah penduduk alam kubur. Ia pernah jatuh cinta kepadaku, namun kutolak. Maka ia meminta izin kepada Allah yang Maha Besar untuk menyertai diriku, dan kepadanya Allah memberikan tugas untuk menyapu kamarku”

Posted in Makhfud Opinion, Nasehat | Tagged , , | Leave a comment

Sebab Lahiriah vs Sebab Rohaniah

Membaca berita di media mengenai penyebab longsor di Banjarnegara, http://nasional.kompas.com/read/2014/12/15/16315561/Ini.Penyebab.Longsor.di.Banjarnegara.Menurut.BNPB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan beberapa penyebab terjadinya longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Dusun Jemblung di dalam peta merupakan daerah yang rawan longsor dengan intensitas sedang-tinggi,” ujar Sutopo, dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2014).

Sutopo mengatakan, pada dua hari menjelang terjadinya longsor, yaitu pada tanggal 10-11 Desember, wilayah di sekitar Dusun Jemblung, Banjarnegara, diguyur hujan yang cukup deras. Akibatnya, tanah di lokasi tersebut menjadi penuh dengan air. Kemudian, menurut Sutopo,  materi penyusun bukit Telaga Lele, di Dusun Jemblung, merupakan endapan vulkanik tua sehingga solum atau lapisan tanah cukup tebal dan terjadi pelapukan.

Selain itu, kemiringan lereng di bukit tersebut kurang dari 60 persen. Saat kejadian, mahkota longsor berada pada kemiringan lereng 60-80 persen. Kemudian, Sutopo mengatakan, tanaman di atas bukit tempat terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija, yang tidak rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air.

Selain itu, Sutopo juga mengatakan, penyebab longsor tidak lepas dari ulah manusia sendiri. “Budidaya pertanian yang tidak mengindahkan konservasi juga jadi penyebab. Kondisi tanah dan air di lokasi perhatian, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut,” kata Sutopo

******************************

Dalam memperkatakan sebab, selalunya faktor-faktor lahiriah yang dicetak tebal dan digaris bawahi. Padahal, hanya memperkatakan sebab lahiriah akan sulit mengambil hikmah dari bencana tersebut. Tujuan dari terjadinya bencana tidak kita dapatkan.

Ya. Dalam setiap bencana, baik yang kecil seperti tertusuk duri apalagi yang besar-besar seperti tsunami dan tanah longsor, Pertama-tama kita perlu betulkan tauhid kita.

Allah jadikan segala sesuatu dengan sebab-sebab.

Artinya, sebab itu Allah yang jadikan. Artinya, bukan sebab yang menjadikan sesuatu tapi Allah yang menjadikan sesuatu.

Oke, bertolak dari pemahaman tauhid ini, ketika ada bencana sepatutnya Allah yang pertama kita ingat. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Segala sesuatu datang dari Allah dan semua akan kembali pada Allah.

Jadi dalam memperkatakan sebab lahiriah jangan sampai tidak dikaitkan dengan Allah. Itu sekuler namanya.

Apa maksud Allah?

1. Untuk meninggikan derajat, bagi orang sholeh.

2. Untuk menghapusan dosa, bagi orang2 yang banyak berbuat dosa

3. Azab dan kutukan karena terlalu durhaka.

Jadi kita yang mendengar berita ini, sepatutnya terasa takut pada Allah. Allah boleh buat apa saja kepada diri kita.

Untuk menguatkan bahwa ini adalah ingatan dari Allah, perhatikan pesan yang Allah sampaikan melalui disisakannya satu rumah ini.

http://m.liputan6.com/news/read/2148351/ajaib-rumah-guru-ngaji-selamat-dari-longsor-banjarnegara

ajaib

Rumah Guru ngaji selamat

Posted in akhir zaman, Makhfud Opinion, Peristiwa Akhir Zaman, sosial | Tagged , , | 1 Comment

Acara sunatan massal Yayasan Global Ikhwan

Acara sunatan massal oleh Yayasan Global Ikhwan akan selenggarakan pada tanggal 9 November 2014 di Rumah Yayasan Global Ikhwan yang beralamat di jl Terusan Hang Lekir 2 kav W37 Simprug Jakarta Selatan.

20141108170446

(Rumah Yayasan Global Ikhwan)

20141108211403

(Generasi Harapan sedang check Sound)

IMG_20141109_040038

(Spanduk)

20141109032600

(pintu masuk dihias balon)IMG_20141109_074704

(Sunat rame2 di Klinik Sunat Paramadina)

 

 

IMG_20141109_074903 (mejeng dulu sebelum sunat)(peserta pertama keluar)

IMG_20141109_074936

 

 

Posted in Akhlak, sosial, yayasan global ikhwan | Tagged , , | Leave a comment

Pawai 1 Muharram 1436H

http://globalikhwan.or.id/pawai-1-muharram-1436h/

20141025070128

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gulai Kepala Kambing

20141017181538

(kepala Kambing)

20141017195105

(gulai kepala kambing)

20141017215537

(pesta gulai kepala kambing)

Kunjungi: http://globalikhwan.or.id

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kegiatan Yayasan Global Ikhwan

http://globalikhwan.or.id/kegiatan-yayasan/

A. Bidang Pendidikan :

(Suasana Belajar di Kelas TK-SDIT “Anak Kesayanganku”)

(Sholat Berjamaah di Asrama TK-SDIT “Anak Kesayanganku”)

Sekolah dan Asrama dengan sistim pendidikan 24 jam ini terutama menampung anak2 yatim, anak yang tidak mampu dan kurang kasih sayang dimana guru-guru mendidik dan memberikan perhatiannya sehingga mereka mendapatkan pendidikan yang layak serta mendapat perlindungan yang diperlukan

B. Bidang Kebudayaan – Dakwah/Motivasi :

(Teater Musikal dari Akademi Generasi Harapan di hadapan 1000 mahasiswa IPB, 2104)

Aktifitas kebudayaan remaja berbakat yang tergabung dalam Akademi Generasi Harapan,dibimbing secara intensif dalam kerja praktek dengan bekal ilmu pengetahuan dan agama. Akademi Generasi Harapan membawa hiburan yang mengandung pesan moral supayaAllah dan Rasulullah semakin dikenal dan dicintai.

(Pelatihan membuat Donat)

(Pelatihan Membuat Kopiah)

(Pelatihan Menjahit Kopiah)

Dilakukan pelatihan-pelatihan yang memberi bekal ketrampilan praktis kepada remaja dan orang dewasa agar dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Bidang Sosial :

(Pernikahan remaja-remaja dibawah naungan Yayasan Global Ikhwan)

Perkawinan beberapa pasangan pengantin usia remaja ini adalah salah satu kegiatan sosial yayasan yang bertujuan menyelesaikan masalah nikah-kawin yang merupakan tanggung jawab bersama dalam menyelamatkan generasi muda dari pergaulan bebas sekaligus mempromosikan budaya perkawinan Islam yang memenuhi syariat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sunatan Massal Anak Yatim dan Dhuafa

http://globalikhwan.or.id/bakti-sosial-muharram-sunatan-massal/

Insya Allah, Yayasan Global Ikhwan akan mengadakan acara sunatan massal untuk anak yatim dan dhuafa pada hari ahad, 9 November 2014.

Khitanan : jam 06.00-10.00 (di klinik)

Kenduri : jam 10.00-selesai (di rumah tamu Yayasan Global Ikhwan, jl. Terusan Hang Leukir 2 kav W37 simprug Jakarta Selatan)

1. Arakan penganten sunat,

2. Sambutan yayasan,

3. Sambutan RT/RW

4. Penyerahan bingkisan, doa penutup, ramah tamah dan hiburan

Untuk bantuan dan donasi, ke rekening BCA a/n Yayasan Global Ikhwan5035500313

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

1. Makhfud Saptadi

Sms/WA: 08179198525

Pin BB: 7666C6B7

2. Henny

Sms : 081372196013

Pin BB: 27BE6F57

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kegiatan Yayasan Global Ikhwan

Monggo silahan disimak: http://globalikhwan.or.id/kegiatan-yayasan/

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment